“Saya tidak jelas mengingat wajahnya, yang saya ingat, kali itu dia memakai celana levis sambil membawa tas punggung berjanji untuk membelikan saya roti”, demikian kenang Hapifudin akan sosok ayahnya. Sejak saat itu ia tumbuh besar tanpa sosok ayah, karena itu adalah pertemuan terakhirnya dengan pria yang menyebabkannya lahir ke dunia ini.

Ayahnya hilang rimba, tak pernah berkabar apalagi mengirimkan ringgit. Hingga 24 tahun kemudian, ketika ia sendiri sedang merantau ke Malaysia, Hapifudin mendapat nomor kontak dan bisa melihat wajah ayahnya kembali. Sang Ayah ternyata telah berkeluarga di Malaysia Timur.

Hapifudin tidak dendam terhadap ayahnya, ia bertekad untuk menjadi pria yang lebih baik setidaknya untuk anak dan istrinya kelak. Untuk itu, sejak usia kanak-kanak, tepatnya pada usia 15 tahun ia menjadi TKI/PMI hingga 4 kali. Dan akhirnya berkenalan dengan ADBMI karena menjadi korban ASN (Aparatur Sipil Negara) yang merangkap calo/tekong.

Beberapa bulan yang lalu (sekitar 5 bulanan) Hapifudin yang ingin berangkat ke luar negeri menjadi TKI/PMI berkenalan dengan seorang oknum kedinasan di Disnakertrans Lombok Timur yang berujung pada oknum tersebut ingin membantu Hapifudin berangkat ke negara penempatan dengan cara yang resmi. Hapipudin dimintai biaya untuk mengurus berkas-berkas yang diperlukan untuk keperluan administrasi, mulai dari medical, pengurusan paspor dan lain-lain, semua biaya dicicil Hapifudin dari meminjam kepada tetangga dilingkungan rumahnya di Desa Pringgasela Timur dengan kesepakatan bunga sekitar 9%.

Selang beberapa bulan Hapifudin belum juga diberangkatkan dengan beberapa alasan yang menurut pengakuan Hapifudin tidak rasional “Saya sudah membayar semua keperluan, seharusnya saya diberangkatkan tetapi oknum dinas tersebut pada saat saya hubungi selalu beralasan”. Sudah hampir 6 bulan saya tidak mendapat kepastian dari oknum tersebut, jika saya tidak bisa diberangkatkan tidak apa-apa tetapi biaya yang sudah saya keluarkan mohon dikembalikan karena itu bukan uang saya pribadi (biaya yang sudah dikeluarkan 12jt yang sekarang bunganya sudah mencapai angka 6jt) kata Hapifudin.

Hapifudin merasa kecewa dan ditipu oleh oknum dinas tersebut, dengan modal rasa kecewa karena merasa ditipu lalu Hapifudin melaporkan kejadian ini ke pihak Pemdes berharap bisa dibantu, dan benar saja Hapifudin bertemu dengan LSD (Lembaga Sosial Desa) Pringgasela Timur yaitu Rohit selaku Ketua di Kantor Desa Pringgasela Timur. Bersama Rohit, Hapifudin lalu melanjutkan laporannya ke ADBMI Foundation selaku pembimbing LSD. Setelah semua kisahnya ia tuturkan kepada kami (ADBMI), kami lalu melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib dengan didampingi Pembimbing Lapangan, Devisi Hukum ADBMI, dan beberapa bukti pada hari Jumat lalu (29/11/2019).

Mediasi bersama Disnakertrans Lombok Timur dan pihak-pihak yang terkait.

Setelah ADBMI didampingi Devisi Hukum dan Hapifudin melakukan mediasi ke Disnakertrans Lombok Timur. Di Hadiri oleh Kepala Dinas Disnakertrans Lombok Timur, Kepala Bidang Disnakertrans Lombok Timur, Stafft Disnakertrans Lombok Timur (Oknum), Roma Hidayat selaku Direktur ADBMI Foundation, Pembimbing Lapangan ADBMI Foundation (Fauzan, Widi, Ridho), perwakilan dari LSD (Rohit, Nendi, Burhan, dan Mamiq Mung), 3 orang perwakilan dari 2 PT terkait yaitu (PT Bagus dan PT Putra Jaya Lestari).

Oknum tersebut sudah jelas melanggar aturan jelas Fauzan, karena menyalahgunakan wewenangnya sebagai ASN “Seharusnya fungsi dari Disnakertrans ini kan membantu bukan malah menjerumuskan masyarakat”. Ada beberapa aturan yang dilanggar oleh oknum tersebut, sebagai ASN di Disnakertrans tidak bisa merangkap menjadi calo/tekong, oknum juga melakukan manipulasi data Paspor, dan penggelapan dana.

Hasil akhir dari Mediasi yaitu hak-hak dari Hapifudin akan dikembalikan (berkas dan biaya yang sudah dikeluarkan), akan diadakan pertemuan lanjutan untuk proses pengembalaian beberapa hari kedepan. Ditambahkan lagi oleh Roma Hidayat selaku Direktur ADBMI Foundation “martabat instansi terlebih-lebih dinas yang bernaung dibawah kepemerintahan sudah tercoreng namanya oleh kelakuan dari oknum-oknum seperti ini, masyarakat awam contoh Pak Hapifudin sudah tidak percaya lagi dengan ASN yang berseragam karena trauma yang dialaminya”, lalu dibuatkan surat perjanjian untuk mengembalikan semua hak dari Hafipudin jika tidak maka kami akan proses hukum.

Lewat ke baris perkakas