Saktah dalam ilmu Tajwid, ilmu baca Al-Qur’an (Qiro’atul Al-Qur’an) adalah berhenti sejenak sekitar dua harakat (ketukan) tanpa mengambil nafas untuk membedakan satu kalimat dengan kalimat berikutnya. Namun ini bukan soal tajwid, ini tentang kondisi terhenyak dan bengongnya multistakeholders yang ada di Lombok ketika terjadi bencana Gempa pada 2018-2019 lalu, bingung tak tahu harus berbuat apa, karena semua orang menjadi korban, dan terutama, karena mayoritas multistakeholders tidak memiliki ide dan kesiapan tentang bagaimana menanngani bencana. Kondisi ini, Neo Saktah berdampak hingga hari ini, ketika tulisan ini disusun, setelah hampir dua tahun, Pemulihan Gempa Lombok tidak jelas sedang dan menuju kemana. Diperburuk lagi dengan pandemi Global COVID-19 yang menyedot hampir sebagian besar sumber daya APBN dan ABPD, nyaris tak ada agenda pembangunan yang jalan, begitu juga nasib para survivor gempa, semakin tak jelas.

Pertanyaannya, kok bisa Pemerintah dan multistakeholders di NTB mengalami Neo Saktah?. apakah karena orang-orang di sana tak memiliki pengalaman terkena bencana? atau lebih karena kelalaian untuk menyiapkan manajemen yang bersiap siaga dan siap pakai sesuai dengan tujuannya, menghadapi bencana, menghadapi situasi buruk yang datang tiba-tiba tanpa diundang dan tanpa rencana?

Menjawab assumsi pertama, fakta sejarah menunjukkan sebaliknya, bahwa NTB memiliki pengalaman dan sejarah kebencanaan yang panjang, bahkan menggegerkan dunia. Mega erupsi gunung Samalas (tahun1257 M) dan Tambora bahkan mempengaruhui iklim dan peradaban global. Situasi paska letusan Samalas terekam dalam tulisan kuno Daun Lontar yang akrab disebut Babad Lombok yang cupilkan terjemahannya sebagai berikut:

“Gunung Rinjani Longsor, dan Gunung Samalas runtuh, banjir batu gemuruh, menghancurkan Desa Pamatan, rumah-rumah rubuh dan hanyut terbawa lumpur, terapung-apung di lautan, penduduknya banyak yang mati.
Tujuh hari lamanya, gempa dahsyat meruyak bumi, terdampar di Leneng, diseret oleh batu gunung yang hanyut, manusia berlari semua, sebahagian lagi naik ke bukit.

Bersembunyi di Jeringo, semua mengungsi sisa kerabat raja, berkumpul mereka di situ, ada yang mengungsi ke Samulia, Borok, Bandar, Pepumba, dan Pasalun, Serowok, Piling, dan Ranggi, Sembalun, Pajang, dan Sapit. Di Nangan dan Palemoran, batu besar dan gelundungan tanah, duri, dan batu menyan, batu apung dan pasir, batu sedimen granit, dan batu cangku, jatuh di tengah daratan, mereka mengungsi ke Brang batun.
Ada ke Pundung, Buak, Bakang, Tana’ Bea, Lembuak, Bebidas, sebagian ada mengungsi, ke bumi Kembang, Kekrang, Pengadangan dan Puka hate-hate lungguh, sebagian ada yang sampai, datang ke Langko, Pejanggik. Semua mengungsi dengan ratunya, berlindung mereka di situ, di Lombok tempatnya diam, genap tujuh hari gempa itu, lalu membangun desa, di tempatnya masing-masing (Babad Lombok).”

Kengerian kisah dalam Babad Lombok di atas, bertahan-tahun, bahkan-abad hanya menjadi semacam dongeng/legenda, sampai kemudian semua orang tersentak, setelah sekelompok pakar vulkanologi dalam dan luar negeri merilis tulisan dalam Jurnal PNAS pada September 2001 silam , bahwa Rinjani atau Samalas adalah terdakwa yang sah dan meyakinkan melalui sejumlah riset sebagai penyebab kematian massal di eropa “Ditemukannya ribuan kerangka manusia di London yang dipastikan berasal dari tahun 1258 kemungkinan berkaitan erat dengan dampak global dari letusan Gunung Samalas pada tahun 1257,” Kesimpulan ini dibuat oleh 15 ahli gunung api dunia. Sedangkan dari luar negeri yang terlibat meliputi 12 ahli dari berbagai kampus ternama di Eropa, di antaranya Frank Lavigne dari Université Panthéon-Sorbonne, Jean-Philippe Degeai dari Université Montpellier, Clive Oppenheimer dari University of Cambridge, Inggris, dan sejumlah ahli lainnya. Mereka awalnya melacak letusan Samalas ini dari jejak rempah vulkanik yang terdapat di lapisan es kutub utara. Mega Erupsi Samalas diduga berskala 7. Sebagai pembanding yang mutakhir “Letusan Merapi 2010 hanya berskala 4 , lalu bagiamana dengan Skala 7 sama yang setara 1.000 kali kekuatan letusan Merapi tahun 2010 lalu.

Setelah Samalas. Lombok kembali mencatat Bencana. Jumat 19 Agustus 1977. Adalah kiamat kecil yang hingga hari ini menjadi ingatan para tetua. Lombok memang bukan pusat kiamat itu, ia hanya terkena tuah bencana, imbas dari Mega Gempa Sumba, NTT, diperkirakan sebesar 8,0 skala richter. Sumba yang tengah huru hara kembali di sapu tsunami dengan ketinggian 15 meter. Akibatnya, 316 orang meregang nyawa dan menghancurkan ribuan bangunan. Dampak dari tsunami Sumba terasa hingga ke NTB. Wilayah Sumbawa dan Lombok tercatat menjadi imbas dari bencana alam maha dasyat tersebut. Desa Lunyuk Besar, Kabupaten Sumbawa turut dihantam gelombang tsunami. Sekitar 198 orang meninggal dunia. Dusun Awang dan Desa Kuta, Lombok Tengah dihantam gelombang tsunami, tercatat dua orang meninggal dunia di Kuta dan kurang lebih 20 orang meninggal dunia di Awang , pemukiman sepanjang pantai tersapu luluh lantak. Para Saksi hidup menuturkan, tak lama setelah bumi berguncang berderak, air laut surut sejauh 3 KM dan kembali meluncur ke darat disertai seperti auman topan dan gemuruh ribuan petir.

Termutakhir. Tanggal 29 Juli 2018, Lombok dihancurkan rentetan gempa yang terus berlangsung secara periodic hingga hampir dua bulan berturut, 555 orang meninggal, hampir 200 ribu unit rumah rusak dengan kerugian diperkirakan Rp. 7 Trilyun. Dan tiba-tiba 28 september, dengan kekuatan 200 kali lebih kuat dari Bom Hiroshima, Gempa yang di ikuti tsunami menghancurkan Palu, kita semua tersentak. Doa dan Simpati untuk korban. Palu memang terpisah ribuan kilometer dari Lombok, namun dampak gempa Palu menyebabkan liquifaksi rehabilitasi paska Gempa Lombok, karena terjadi migrasi sumber daya. Posko-posko di Lombok Timur kosong. Bencana Palu mengirim echo bencana tersendiri bagi Pulau Lombok, berkurangnya perhatian dan berujung recovery paska bencana makin tidak jelas.

Sama seperti Saktah, Ikhfa Syafawi yaitu suatu hukum tajwid (ilmu Baca Al Qur’an) yang terjadi ketika ada huruf hijaiyah Mim Sukun ( مْ ) ketemu dengan huruf hijaiyah Ba ( ب ) , secara letersikal Ikhfa’ berarti menyembunyikan atau menyamarkan & Syafawi berarti bibir. Disebut dengan Ikhfa Syafawi sebab makhraj dari huruf hijaiyah Mim dan huruf hijaiyah Ba adalah pertemuan antara bibir bawah dan bibir atas. cara bacanya adalah menahan huruf hijaiyah mim secara samar-sama], sekonyong-konyong anda sudah di huruf Ba . Tidak jelas, apakah anda bunyikan M atau Ba. Kira-kira demikian halnya dalam penanganan Genmpa Lombok. Khususnya Desa dan dusun yang dianggap tidak masuk dalam pusat Gempa (bukan zona merah). Korban dan penanganannya diantara ada dan tak ada.

Contoh Dusun Banok. Salah satu dusun di desa Jurit Baru, kecamatan Pringgasela. Dusun ini adalah area permukiman terakhir yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Sebagian warganya adalah keturunan orang Masbagik. Waktu penjajahan Belanda, dusun ini sudah berkembang. Konon, Banok berasal dari dua kata. Satunya imbuhan dan satunya kata ganti Ba nokan, yang berarti di sana. Lokasinya juga tak jauh amat dari ibu kota kabupaten, cuma belasan kilo saja.

Ada 11 rumah yang hancur total. Tiarap di tanah karena gempa. Dan mereka yang mendadak homeless itu sekarang bertahan di tenda-tenda. Di samping rumah, fasum seperti masjid tidak berani ditempati lagi karena retak dan kerusakannya menyeramkan. Untuk itu mereka membuat mushala darurat. Kenapa mushala penting ??? . Karena mushala adalah pusat trauma healing sesungguhnya bagi semua kalangan Dusun ini, karena 100% penduduknya muslim.

Sedikit soal trauma healing ini. Seorang teman dari luar hairan bin takjub. Kenapa tak nampak kesedihan, semua orang tersenyum dan ngobrol dengan ekspressi gembira. Tak ada yang menangis , merenung di pojokan atau nungging di atas puing reruntuhan rumah. Mereka memang trauma gempa, tapi tak ada yanh trauma dan stresss karena kehilangan nyawa keluarganya dan hartanya ???. Saya kasi tahu jawabannya, karena spirit mushala dan masjid itu. Mereka dapat menikmati musibah itu, karena keimanan mereka pada takdir. Dan bahwa semua kesakitan yang dihadapi dengan sabar & syukur, hanya akan membuat Tuhan mereka bertambah sayang pada mereka.

Kekuatan mental dan psikologis ini ke depan perlu di manaje sebagai Prima capital dalam penanganan bencana.
ADBMI memiliki Pengalaman lumayan panjang dalam dunia sosial, dunia advokasi kebijakan publik dan pemberdayaan komunitas, namun itu dalam Isu Migrasi dan Trafficiking sesuai dengan konsitutisi organisasi. Secara umum, ADBMI memang terlahir dari dan untuk isu migrasi. Dalam penanganan Bencana, beberapa kali ADBMI terlibat karena panggilan solidaritas kemanusiaan. Bencana tak ada dalam mandat dan rencana strategis, oleh karenanya keterlibatan ADBMI bersifat taktis dan reaktif; mengumpulkan bantuan baik dari CSR koperasi yang dimiliki maupun publik dan mendistribusikannya ke kelompok korban baik mengantar sendiri maupun menitipkan ke lembaga lain. Sesederhana itu.

Baru pada momen Gempa Lombok, ADBMI terlibat sedikit dalam. Gempa itu tidak memilih korban, kerusakan fisik memang terjadi di beberapa titik di Kabupaten; Lombok Timur, Utara dan Barat, namun seluruh Pulau merasakan getaran dan ketakutannya. Tapi empati, merasa menjadi korban bagi seluruh warga Lombok bukan semata karena memiliki pengalaman merasakan kengerian getaran Gempa, namun Lombok memiliki sejarah dan sosiologis “Kadang/Semeton Jari” yang kalau diterjemahkan ke Indonesia sebagai “Sanak Saudara”. Kadang/Semeton jari adalah persepektif yang mempertimbangkan/memprioritaskan keluarga besar.

Mereka yang menjadi korban di utara Lombok tadinya adalah orang-orang yang tinggal di selatan, mereka migrasi ke Utara oleh karena berbagai alasan. Intinya, mereka yang menjadi korban adalah sanak family mereka yang tidak jadi korban. Dan di sinilah perspektif kadang/semeton jari itu bekerja, saudaraku jadi korban, maka sesungguhnya aku juga korban. Persepektif ini melahirkan empati dan solidaritas yang tinggi.

Termasuk seluruh personel ADBMI, mengalami situasi yang sama. Bahkan Koperasi BUMI RAYA, organisasi sayap ADBMI untuk penggalangan Dana terimbas secara langsung, khususnya para Klien/Nasabah yang berada di Kecamatan Sambelia, dimana kantor cabang di sana untuk membantu korban melakukan pemutihan (semua sisa pinjaman yang belum diangsur dihapus) untuk membantu korban dan lebih lanjut menyelenggarakan skema Qordhul Hasan (Pinjaman yang baik tanpa nilai tambahan/tanpa bunga, jadi hanya kembali pokok pinjaman). Skema ini untuk membantu pemulihan ekonomi di daerah itu.

Keterlibatan ADBMI dalam penanganan bencana untuk pertama kali dalam bentuk proyek kerjasama, adalah dalam Project dengan title “Gender Responsive of Direct Aid for Lombok Earthquake Victims During Transition Phase “ yang disupport oleh AWO International. Pertimbangan utamanya adalah selama berada di pengungsian, terutama ibu menyusui, ibu hamil dan anak perempuan yang memiliki privasi, mereka kurang nyaman untuk tidur atau pergi ke toilet.

Dengan adanya bantuan penyediaan tempat tinggal dan jamban, diharapkan para korban dapat tidur, istirahat dengan nyaman sehingga mampu berpikir dan bertindak lebih produktif. Anak yang tidak mendapatkan layanan konseling, tidak bisa bersekolah akan menjadi beban tambahan bagi orang tuanya. Orang tua tidak dapat pergi bekerja dengan tenang karena anak-anak ketakutan dan membutuhkan perhatian. Untuk itu, melalui pembangunan sekolah lapangan, pemberian makanan tambahan akan menunjang kesehatan anak, baik fisik maupun fisik. Dengan demikian, orang tua dapat melakukan aktivitas lain untuk mempercepat normalisasi kehidupan.

Proyek diatas berfokus pada dua desa terdampak gempa yang telah dilayani oleh ADMI melalui proyek migrasi aman yang dilaksanakan dengan AWO International yang dimulai pada Januari 2018, Desa Wanasaba dan Pringgasela Timur. Dasar pemilihan wilayah ini dan menargetkan keluarga pekerja migran adalah bahwa mereka sudah terpinggirkan, rentan dan miskin bahkan sebelum gempa bumi. Dampak gempa telah memperburuk situasi kelompok ini. Proyek ini memiliki dua hasil utama:

  1. Agar komunitas dapat secara efisien mengelola bantuan yang masuk ke komunitas, dengan kegiatan utama:
    • Pengembangan rencana pemulihan pasca gempa,
    • Penyediaan peralatan untuk manajemen data.
  2. Kebutuhan kelompok rentan (terutama perempuan dan anak perempuan) yang terkena dampak gempa bumi dapat dipenuhi sehingga hak mereka untuk bertahan hidup, berkembang, terlindungi dan privat dapat terpenuhi, terutama saat menghadapi musim hujan yang akan datang. Melalui kegiatan utama:
    • Penyediaan perumahan sementara, fasilitas sanitasi, peralatan memasak dan kebutuhan mendesak lainnya;
    • Penyediaan fasilitas pendidikan untuk anak di bawah usia 5 tahun,
    • Pemeriksaan kesehatan umum dan konseling.

Belajar dari Monyet, dari pengalaman yang pendek itu, ADBMI melakukan refleksi. Bahwa empati dan solidaritas serta penanganan bencana jika tidak disertai dengan pengetahuan dan manajemen yang baik, akan menjadi potensi bencana baru di tengah bencana itu sendiri.

Kenapa ahli Monyet melarang kita memberikan makanan pada monyet, apalagi secara rutin seperti minum obat 3x sehari.  Karena, “Perilaku Baik” memberi makan itu, ternyata tidak mendidik monyet. Monyet akan kehilangan daya dan keterampilan bertahan hidup, malas mengeksplorasi daya kreasi dan potensinya untuk mencari makan, dan sebaliknya ingin terus bergantung pada manusia yang memberinya makan. Demikian refleksi dalam rapat ADBMI.
Memberi makan adalah prilaku baik dan menolong. Namun baik saja tidak cukup, diperlukan pendekatan dan metode yang benar. Sehingga dampaknya dalam jangka panjang, baik dan benar. Balik ke kasus monyet, Meski hutan tidak rusak vegetasi potensi habitat, tidak ditemukan gangguan. Pada beberapa kasus, bahkan di Lombok sudah kita bisa temukan di daerah Pusuk, baik Pusuk Lombok barat maupun Lombok Timur. Monyet itu keluar dari habitatnya, lebih senang berdiri telanjang di pinggir jalan besar, mengawasi dengan tajam lalu lalang kendaraan, mereka tak takut di lindas, bahkan para monyet itu mulai menganggu pengunjung. Pada ketergantungan yang akut, akan berujung pada konflik masyarakat monyet dan warga manusia. Monyet menyerang si tuan baik hati tadi. Dan ketika Tuan pergi atau mati, monyet akan ikut mati di hutan yang di penuhi pohon-pohon yang tengah berbuah. Tikus mati di lumbung padi, Monyet-monyet itu akan mati Karena kemalasan dan hilangnya daya kreasi mencari makan.

Dulu kita tahu, banyak program penanganan kemiskinan, dan hasilnya, jumlah orang miskin makin meningkat. Yang tidak miskin, bersikeras mau jadi miskin. Sekarang kita putar haluan ke Soal penanganan bencana gempa di Lombok. Banyak relawan dan atau para stakeholders memviralkan info baik dalam video, tulisan, photo. Bahwa rombongan mobil bantuan di kerubungi, “diserang” oleh para korban pengungsi. Itu hanya sekelebat adegan, yang kok rada mirip dengan adegan monyet versus manusia di atas. Pola ini seperti menanam ranjau bencana di ladang kita sendiri, yang entah suatu saat nanti akan terpijak dan meledak menjadi bencana baru, bencana kultur social.
Seperti Sebutir Telur.

ADBMI juga menyadari bahwa migrasi dan bencana memiliki hubungan sebab akibat, bencana mengahncurkan dan menghambat pembangunan, menyebabkan kemiskinan dan akhirnya migrasi. Untuk itu ADBMI harus belajar dan memasukkan manejmen kebencanaan ini dalam prioritas kebijakan lembaga. Untuk itu ADBMI membuka diri untuk belajar tentang Proyek penanganan Bencana. Latar belakang ini mempertemukan ADBMI dengan YSI. Dimana ADBMI belajar Proyek pengurangan resiko Bencana dengan piloting di satu Desa, Desa Pringgasela Timur.
Sebutir telur merupakan salah satu judul status fanpage ADBMI ketika memposting salah satu kegiatan proyek PRB yang di selenggarakan oleh ADBMI-YSI dan AWO. Analogi sebutir telur ini muncul dalam sebuah workshop pengintegrasian issue kebencanaan dalam Rencaan Pembangunan Desa. Walaupun memiliki bagian luar yang keras kita tidak bisa memastikan telur tersebut aman dari ancaman pecah telur. Ancaman dari luar bisa saja menyebabkan pecah sehingga gagal mencapai penetasan, analogi yang digunakan dalam menanggapi bencana.Untuk membuat telur tersebut tidak pecah walaupun mendapat ancaman dari luar, kita tingkatkan kapasitasnya dengan cara memberikan perlindungan dengan sumber daya yang ada sehingga level pertahanan dari telur tersebut meningkat.

Untuk mempertegas komitmen dan kesiapan ADBMI dalam mengintegrasikan issue kebencanaan ke dalam kebijakan lembaga, maka ADBMI telah dan akan terus mereformasi diri . Mengingat ADBMI belum memiliki perangkat yang cukup ; SDM, perangkat lembaga (fisik dan Non Fisik) yang dapat mendukung pengintegrasian Issue Kebencanaan . Untuk saat ini, sebuah tim kecil telah dibentuk untuk melakukan review di Level SOP serta mempertimbangkan untuk membuat struktur Organisasi yang menangani issue kebencanaan ini . Dan dengan mempertimbangkan startegi serta keberlanjutan , ADBMI merasa perlu untuk melakukan perubahan di level rencana strategis organisasi.

Lewat ke baris perkakas