Selong, Syamsul Rizal ditemani 2 orang lainnya yaitu Pak Mail (pernah menjadi staff di ADBMI) dan iparnya mengunjungi kantor ADBMI Foundation hari ini (27/10). Maksud kedatangan beliau tidak lain dan tidak bukan ialah untuk mengadu perihal saudaranya yang menjadi PMI meninggal negeri Jiran.

Tidak lama ini, keluarga Syamsul Rizal dikejutkan dengan berita atas meninggalnya salah satu saudara tertuanya yang bekerja sebagai PMI di Negeri Jiran. Pasalnya saudaranya tersebut sudah menjadi PMI Ilegal kurang lebih 12 tahun dan tidak pernah pulang.

“Kakak saya meninggal dalam keadaan sedang menunggu kapal penyeberangan untuk kembali ke kampung halamannya di Dasan Kerepuk, Desa Pringgabaya Utara” tutur Syamsul Rizal kepada Fauzan (Tim ADBMI).

Almarhum sebelum meninggal memang sedang sakit dari 2 bulan sebelumnya, pernah merencenakan pulang bersama istrinya sebelum ia sakit tetapi karena adanya Covid-19 membuatnya mengurungkan niat tersebut.

Sambung Syamsul Rizal “Almarhum di Malaysia bersama dengan istrinya. Mereka punya 2 anak yang masih kecil-kecil dititipkan ke orangtua saya di kampung, dan istrinya sekarang sedang hamil besar juga”.

Kronologi meninggalnya kami dapatkan info dari istri almarhum terlebih dahulu kemudian setelah itu kami dapat kabar dari Rumah Sakit di Bukit Tinggi – Malaysia, pungkasnya.

Pada saat menunggu datangnya kapal jemputan, selama hampir sepekan di dalam hutan dekat pesisir, almarhum dengan istri dan beberapa kawan lainnya bersembunyi. Lalu penyakit almarhum kambuh dan selasa (20/10) menemui ajal.

Dan keesokan harinya (21/10) mayat almarhum ditemukan oleh pihak kepolisian diraja Malaysia dalam kondisi dikubur di dalam hutan tempat persembunyian tidak jauh dari pesisir tersebut bersama dengan istri dan beberapa orang lainnya. Lalu kuburan tersebut dibongkar dan mayat almarhum di bawa ke Rumah Sakit Bukit Tinggi Malaysia untuk diotopsi.

Tutur istri almarhum kepada pihak kepolisian “Kakak ipar saya diminta untuk tutup mulut perihal cara penguburan almarhum, ia diminta untuk menyampaikan bahwa almarhum di kuburkan di TPU dengan layak oleh beberapa orang yang ia tidak kenal” tutur Syamsul Rizal.

Pihak Rumah Sakit lalu menghubungi keluarga Syamsul Rizal untuk urusan administratif berkaitan dengan almarhum, apakah mau dikuburkan di sana atau mau dikirim pulang dengan beberapa penjelasan nominal.
“Kalau dikubur di sana biayanya RM 4000 (Rp 14.071.380) dan kalau dikirim pulang biayanya RM 6000 (Rp 21.107.070). Kami hanya rakyat biasa, makanya kami minta tolong ke pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya seperti Disnaker, LP2MI, ADBMI, berharap bisa meringankan beban tersebut” tutup Syamsul Rizal.

Fauzan selaku tim ADBMI “Tadinya kita berharap Disnaker sebagai leading sector yang mengurusi soal ketenagakerjaan lebih totalitas dalam membantu persoalan yang dihadapi oleh keluarga korban. Misalnya dalam kasus yang menimpa Ahyar Rosidi (Almarhum) ini, Disnaker seharusnya melakukan koordinasi dengan dinas-dinas terkait untuk mengusahakan biaya pemulangan yang dibutuhkan pihak keluarga. Dengan demikian pihak keluarga tidak perlu kesana-kemari meminta bantuan karena akan berbeda tentu prosesnya, akan lebih cepat kalau pemerintah dengan pemerintah yang berbuat dan melakukan”.

Lewat ke baris perkakas