Malam itu di hari Rabu, 10 Agustus 2016, pukul 20.30 Wita. Telepon genggam saya berdering, ada panggilan dari nomor yang belum tersimpan di daftar kontak saya. Setelah saya angkat, tenyata suara seorang perempuan yang langsung mengucapkan salam dan meminta ma’af karena menghubungi saya malam-malam. Lalu ia memperkenalkan diri bahwa ialah Nurhayati, kader dari Orong Gerisak yang ditunjuk oleh Bapak Kadus setempat seb­agai seorang pendata komunitas TKI di Dusun Orong Gerisak Desa Tetebatu. Nurhayati mengaku tengah bingung dengan format pendataan tersebut. Dan ingin meminta saya untuk menjelaskannya. Dan saya merasa kalau menjelaskan itu via telepon agak sulit, saya membuat janji untuk datang langsung menemuinnya besok.

Keesekoan harinya, sayapun memenuhi janji itu. Saya bergegas untuk datang dan setiba di gubuk milik keluarga kecil Nurhayati, ia mempersilahkan saya untuk masuk. Dia malah sungkan dengan keadaan rumahnya yang begitu sederhana agar saya memakluminya.

Sebelum lebih jauh berbicara, Nurhayati menyuguhkan segelas kopi khas orang Tetebatu yang tentu aroma dan rasanya jauh berbeda dengan kopi bungkusan yang dijual dan berlabel bagus. Kopi vanili racikan Nurhayati sungguh sangat nikmat, apalagi pawana di Tetebatu memang lebih dingin dibanding di tempat saya.

Nurhayati lahir pada tanggal 31 Juli 1991, ia anak keempat dari 5 bersaudara pasangan Ibu Hamalah dan almarhum Aq Jumaeni. Nurhayati pernah mengenyam pendidikan sekolah dasarnya di SDN 4 Tetebatu dan seorang alumnus MTs Ulil Albab NW di Gegek Desa Perian dan lulus pada tahun 2006 silam.

Semenjak lulus SMA pada tahun 2009, Nurhayati berprofesi sebagai buruh lepas yang sebenrnya merupakan aktivitas yang tidak lazim bagi seorang anak perempuan yang masih belia sepertinya. Dan seusianya masih layak untuk menempuh pendi­dikan yang lebih tinggi lagi, masuk perguruan tinggi. Akan tetapi kenyataannya jauh berbeda, dia harus putus sekolah karena tidak ada biaya.

Aktivitas itu ia lakoni selama 4 tahun untuk membantu per­ekonomian keluarga dan biaya hidup sehari-hari. Dan bahkan oleh mertuanya yang pada waktu itu berstatus calon mertua, Nurhayati dipercaya menjaga tanaman tembakau milikinya.

Melihat keuletan Nurhayati bekerja, membuat seorang pria yang juga berasal dari dusun yang sama, namanya Lalu Sawadi dan akhirnya memutuskan untuk melamar Nurhayati sebagai istrinya. Mereka menikah pada bulan April tahun 2009.

Dari buah cintanya mereka, Nurhayati melahirkan seorang putra bernama Lalu Rifki Aditya pada tanggal 28 Januari 2010. Rifki ialah anak pertama sekaligus juga yang terakhir dari sua­minya itu. Semenjak lahirnya putra mereka, hari-hari yang dilalui penuh dengan kebahagian. Akan tetapi, kebahagian itu mereka rasakan tidak begitu lama karena suami yang sangat ia cintai ternyata lebih dicintai oleh Allah. Bulan Mei 2010, peristiwa naas menimpa suaminya dalam sebuah tabrakan maut hingga Lalu Sawadi meninggalkan Nurhayati dan Lalu Rifki Aditya.

Nurhayati tidak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan atas meninggal suaminya tercintanya. Meskipun ia sulit melupakan hal itu, tapi ia harus bangkit untuk menghidupi keluarga kecil­nya bersama anak semata wayangnya adalah satu-satunya motivasi hidup Nurhayati. Dan ia terus bekerja serabutan untuk bertahan hidup bersama putranya.

Kini 6 tahun lebih ia telah ditinggalkan oleh suaminya, dan dia masih juga setia dengan kesendiriannya selama itu. Nurhayati tetap tegar, rutinitasnya buruh tani tetap dilakoni bahkan seb­agai seorang pengojek. Tidak hanya itu yang digeluti Srikandi dari Kaki Rinjani ini, berbekal Bahasa Inggris yang didapatkan sewaktu di Ulil Albab, sewaktu-waktu ia menjadi pemandu wisata di sana karena Desa Tetebatu merupakan desa wisata yang cukup terkenal.

Di tengah kegundah gulanaan saya menjadi Pendamping Lapangan Konsorsium ADBMI & Friends untuk mencari mitra kerja atau Co (Counselor) pada Program Kemakmuran Hijau dari MCA-Indonesia, maka saya tidak ragu lagi untuk mengajak Nurhayati bergabung menjadi mitra atau Co kami. Awalnya dia merasa ragu, sebab takut tidak bisa dan takut mengece­wakan. Tapi, saya terus memberikan pandangan-pandangan yang akhirnya setelah beberapa pertimbangan iapun mau untuk bergabung dengan motivasi ingin menambah wawasan, memperbanyak relasi dan ia juga berharap keterlibatannya ini bisa memberikan kontribusi dalam membangun masyarakat di desanya untuk mengubah pradigma yang premitif.

Semenjak sebagai seorang Counselor di Program Kemakmuran Hijau ini, Nurhayati terlihat sangat aktif. Melihat itu, KSU Bumi Raya yang juga salah satu lembaga anggota dari Konsorsium ADBMI & Friends, merekrut ia sebagai seorang FC (Financial Consultant) di Desa Tetebatu. Dan bertugas untuk menghimpun tabungan dari masyarakat dan membantu akses permodalan dari KSU Bumi Raya kapada masyarakat.(TUR)

Lewat ke baris perkakas