TIMBANUH

Bentang Alam

Timbanuh adalah desa di kaki Gunung Rinjani dan berbatasan langsung dengan hutan Taman Nasional Gunung Rinjani. Permukaan alam yang bergelombang dan menurun dengan tingkat kemiringan sekitar 30° pada ketinggian mulai dari 550 sampai dengan 797 meter dari permukaan air laut. Curah hujan di Timbanuh berkisar antara 1.200 – 3.000 mm/tahun dengan suhu rata-rata di Desa Timbanuh adalah 22° celcius.

Desa Timbanuh merupakan desa yang dipenuhi dengan ladang dan kebun sebagai sumber pencaharian utama masyarakatnya. Dan di beberapa titik terdapat lokasi penambangan Galian C.

Kondisi Umum Sosial

Jumlah penduduk Desa Timbanuh adalah 2.583 jiwa. Penduduk Desa Timbanuh sebagian besar berprofesi sebagai petani sebanyak 520 orang, disusul buruh tani sebanyak 258 orang dan buruh migran sebanyak 158 orang.

Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat Timbanuh menjadi salah satu faktor rendahnya tingkat ekonomi masyarakat disamping ketersediannya lapangan kerja yang sempit. Hingga memicu arus migrasi yang cukup tinggi di Desa Timbanuh.

Sedangkan dalam relasi sosial antara perempuan dan laki-laki di Desa Timbanuh masih memiliki kesamaan kebiasaan dengan desa-desa lain. Bahwa Secara umum peranan perempuan dalam membangun prekonomian rumah tangganya perempuan merupakan kekuatan yang tidak bisa dianggap enteng. Manajemen pengelolan ekonomi rumah tangga didominasi oleh istri, karena ada sebuah ungkapan yang masih dipercaya betul oleh masyarakat desa Timbanuh adalah seorang perempuan dianggap sebagai “kemberas” ungkapan dalam bahasa sasak yang artinya tempat menaruh beras. Tapi dimaknai secara luas bahwa, memberikan kepercayaan yang luas kepada seorang perempuan untuk mengatur prekonomian di dalam rumah tangga. Dan laki-laki harus menjaga kemberas itu, jangan sampai pecah, yang mengakibatkan beras yang ditampung tumpah artinya kalau kita sudah saling memberi kepercayaan, hidup kita akan selalu rukun dan damai, sehingga apapun yang kita lakukan bisa berhasil kalau suami isteri selalu hidup rukun.

Potensi Sumber Daya Alam

Wilayah Desa Timbanuh yang merupakan Pedesaan di kawasan Pegunungan menjadikan Timbanuh sebagai salah satu desa yang berpotensi dalam pengembangan wisata alam, seperti terdapat beberapa sumber mata air dan air terjun. Selain itu juga Desa Timbanuh dijadikan pintu pendakian illegal ke Gunung Rinjani melalui jalur Mayung Polak.

Dalam sektor perkebenunan misalnya Timbahnuh telah mencatat sejarahnya sendiri bahwasanya dalam pembukaan wilayah desa Timbanuh bermula dari pembukaan kawasan perkebunan oleh Pemerintah Kolonial Belanda dengan menempatkan para petani untuk mengelola kawasan itu yang menjadi cikal bakal penduduk di Desa Timbanuh kini.

Dusun Semporonan

No Komoditas Unggulan Produksi/Pengolahan Masalah Usaha Pelaku ekonomi
Dulu Sekarang
1 Pisang Kripik

Molen sale

Pisang Sale

Bahan Baku Kurang

Pemasaran

Alat pengering BP3TKI

Inaq Tari

 

 

2 Bambu Topi Petani

Bakul

Dandang Nasi

Bdek

Pembeli kurang/pemasaran Yang bisa melakukanya terbatas hanya beberapa orang saja

Pemasaran

Pp. Mul/Pelaku individu

Dusun Timbanuh

No Komoditas Unggulan Produksi/Pengolahan Masalah Usaha Pelaku ekonomi
Dulu Sekarang
1 Cengkeh MinyakUrut

Rempah-rempah

Rokok

Obat Gigi

Minyak wangi

Belum Ada alat produksinya Alat produksinya Dinas Kesehatan

Dinas pertanian

 

 

2 Bambu Topi Petani

Bakul

Dandang Nasi

Bdek

Pot Bunga

Meja/kursi

Rumah Bambu

Tidak Ada Biaya Membutuhkan bimbingan/pendampingan Nurasih dan yulyadi/pelaku individu

 

3 Kopi Perment

Kopi bubuk

Alat Pengemasan Dinas Pertanian dan perkebunan

Dusun Kayu Jati

No Komoditas Unggulan Produksi/Pengolahan Masalah Usaha Pelaku ekonomi
Dulu Sekarang
1 Alpukat Sabun

Hand and body

Tidak adamesinpengolahan

Tidak ada pelatihan untuk membuatproduk tersebut

Tidak adamesinpengolahan

Tidak ada pelatihan untuk membuatproduk tersebut

Dinas Koperasi

Disperindag

PKK

 

 

2 Durian Perment durian

Dodol Durian

Tidak ada pelatihan Tidak ada pelatihan Pengusaha

Migrasi

Sejarah migrasi untuk Desa Timbanuh tergolong masih muda mulai sekitar tahun 1985-an. TKI yang pertama kali bernama Amaq Murni yang kini menetap di Pulau Sumatra. Generasi kedua sekitar tahun 1990-an yang terdiri dari tiga orang perantau bernama Asnawi, Amaq Ham dan Mahnur, mereka mengeluarkan tambang sekitar Rp.300-350 ribu per orang. Menurut saksi sejarah perjalanan yang melakukan migrasi pertama tidak jauh berbeda dengan kisah ketiga orang ini karena tekong yang membawanya bernama Sahidin dari Desa Semay Kecamatan Sakra. Perjalananya berangkat dari rumah dan ditampung di Sikur selama dua hari dua malam, kemudian berangkat melalui pelabuhan Lembar menuju Surabaya selama dua hari dua malam juga. Di Surabaya mereka diinapkan selama 2 hari. Baru kemudian dengan menggunakan bus malam dari Surabaya langsung ke Pekan Baru yang menempuh selama satu minggu perjalanan, disebabkan bus yang ditumpangi sering rusak selama di perjalanan mereka. Di daerah Pekan Baru mereka lalu dibawa ke tempat yang namanya Rampak dan ditampung selama satu bulan penuh. Di Rampak inilah para TKI yang akan ke Malaysia dikumpulkan untuk menunggu jadwal penyebrangan menggunkan perahu tongkang dan TKI yang punya ongkos ekstra bisa memilih boat atau perahu bermesin untuk menyebrang. Tapi ketiga orang ini memakai perahu tongkang bersama sekitar 300 orang penumpang lain yang bernasib tidak baik sebab dihadang oleh polisi yang menjaga perbatasan.

Perahu tongkang tersebut sesunguhnya sudah dimuat melebihi dari kapasitas tampungannya tapi mereka diatur persis seperti barang. Sebagian dari mereka juga ada yang pingsan akibat sesak dan berdesakan. Akhirnya mereka dikembalikan lagi ke Rampak, dan seminggu kemudian karena dianggap sudah aman baru mereka disebrangkan lagi. Sekitar 250 orang bisa menyebrang melewati medan berlumpur sejauh kurang lebih 400 meter baru mereka bisa sampai di pinggir pantai. Sesampai dipinggir pantai sudah ada tekong yang menunggu mereka yang bertugas untuk menjemput mereka. Diketahui bahwa di antara para tekong itu ada juga oknum petugas keamanan pantai dari Kerajaan Malaysia. Mereka dikumpulkan menjadi satu paket barang yang siap diperdagangkan seperti layaknya hewan ternak. Mereka ditawarkan oleh tekong-tekong tersebut dengan besaran harga yang tidak sama, tergantung kondisi fisiknya, dan kalau yang masih anak-anak biasanya akan dibayar mahal, dari pada yang sudah dewasa. Dan ketiga orang Timbanuh ini laku dijual oleh tekong dengan harga RM100-RM150.

Update Faktual BMI Desa Timba Nuh

Dari 670 KK penduduk Desa Timbanuh, sekitar 221 KK merupakan eks-TKI & TKW. Atau sekitar 32,9% dari jumlah penduduk sebanyak 2.583 Jiwa.

Jika dilihat dari jumlah tanggungan kelurganya sekitar 38% penduduk Desa Timbanuh bergantung kepada hasil pendapatan menjadi TKI di luar negeri. Dengan perincian sebagai berikut: tanggungan laki-laki sebanyak 356 orang dan tanggungan perempuan sebanyak 225 orang.

Faktor penyebab menjadi Buruh Migran

Berdasarkan hasil pengumpulan data melalui teknik wawancara dan dokumentasi, bahwa sejarah migrasi di Desa Tmbanuh dimulai sejak tahun 1985 sampai dengan saat ini. Hal ini tergali dari para pelaku migrasi yang masih hidup hingga saat ini. Sedangkan sumber dari literatur tertulis tidak ditemukan catatan-catatan mengenai sejarah migrasi masyarakat desa Timbanuh.

Adapun beberapa faktor penyebab menjadi buruh migran antara lain: untuk mencari pengalaman; minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan; rendahnya pendapatan keluarga.

TKI dan eks-TKI serta keluarganya yang tergolong mapan hanya sekitar 2%; sedang 35%; dan sedangkan yang tergolong masyarakat miskin atau kurang mampu sekitar 65% dari total jumlah TKI dan eks-TKI serta Keluarga TKI.

Dampak Sosial dari Migrasi (Termasuk Mata Pencaharian, Tata Pemukiman, Budaya, Bahasa, Arsitektur Rumah, Life Style)

Proses migrasi di desa membuat perubahan yang signifikan terhadap pola pikir masyarakat, baik berdampak negatif maupun yang berdampak positif ini merupakan sudah hukum alam. Secara umum, perubahan status ekonomi masyarakat Desa Timbanuh dari akibat bermigrasi mengalami peningkatan, karena dari hasil remitansi yang dibawa oleh mantan TKI, baik itu yang berupa uang dan ilmu pengetahuan, skills/keterampilan dari rantauan. Mereka yang bekerja di kebun pisang misalnya, tentunya dengan modal pengalaman dari sana, pengolahan pisang dapat diterapkan di kampung halamannya sebagai upaya mereka mengembangkan ekonomi rumah tangganya. Begitu juga mereka yang pernah bekerja di sektor perkebunan lainnya. Dari model arsitektur rumah, lebih kurang 70% rumah permanen berasitektur modern dibangun dari hasil remitansi, bahkan tidak sedikit dari mereka yang menguasai tanah perkebunan masyarakat, mereka dapatkan dari beli gadai, beli tahunan, bahkan dibeli langsung oleh mereka yang punya hasil remitansi lebih yang diproleh dari luar negeri.

Persepsi Masyarakat terhadap Buruh Migran Perempuan dan Anak-Anak

Selain dampak positif, perubahan yang terjadi dari sisi negatif migrasi ini adalah, ditinjau dari perubahan perilaku sosial masyarakat terhadap pelabelan isteri TKI, yang dicap sebagai Jamal (Janda Malaysia) yang cenderung diartikan “genit”, penganggu isteri orang masih kita dengar di masyarakat, apalagi kalau ada mantan TKW yang baru pulang baik dari Arab Saudi dikatakan sebagai pembasuh botol (istilah Sasak untuk pekerjaan asusila) bahkan hasil yang diperoleh dari merantau kearab dianggap hasil yang kurang baik atau bahkan haram. Posisi tawar dari perempuan yang pernah menjadi TKW, diragukan di masyarakat. Pelabelan oleh masyarakat inilah yang menggambarkan bahwa masyarakat Desa Timbanuh secara umum kurang setuju terhadap perempuan yang melakukan migrasi.

Lewat ke baris perkakas