LENDANG NANGKA UTARA

Bentang Alam

Desa Lendang Nangka Utara terletak di Kecamatan Masbagik Kabupaten Lombok Timur, dengan bentang alam bergelombang berbukit-bukit dengan kemiringan 60°, di ketinggian mulai dari 411 m dpl hingga 518 m dpl dan merupakan pedesaan lembah Rinjani yang berbatasan langsung dengan hutan tropis Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Curah hujan 1.850 mm/th pada suhu rata-rata 10° – 32° celcius.Desa Lendang Nangka Utara memiliki luas wilayah sekitar 900 Ha dan terbagi menjadi dua belas dusun, yaitu : Otak Pancor, Otak Pancor Utara, Borok Lelet, Jimse, Kapitan, Lowang Sawak, Benteng Montong Sube, Benteng Selatan, Benteng Utara, Masjid Bakiq,  Gonjong Utara dan Gawah Malang.

Kondisi Umum Sosial

Jumlah penduduk Desa Lendang Nangka Utara adalah 10.532 jiwa dari 3.456 kepala keluarga dengan rincian laki-laki sebanyak 5.184 orang dan perempuan 5.348 orang.

Secara umum gambaran sosial di Desa Lendang Nangka Utara masih diklasifikasikan pada tingkatan kesejahteraan yang rendah, hal ini dipicu oleh faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain : tingkat pendidikan masyarakat; pertumbuhan penduduk yang tinggi; pemukiman kumuh; lapangan kerja yang sempit. Dari beberapa indikator tersebut, dapat diuraikan sebagai berikut: keluarga pra sejahtra sebanyak 1.039 KK; sejahtera I sebanyak 1.504 KK; Sejahtra II sebanyak 589 KK; sejahtra III sebanyak 324 KK; dan sejahtra III plus sebanyak 315 KK.

Analisa sosial dalam relasi antara laki-laki dan perempuan secara umum di Desa Lendang Nangka Utara ialah perempuan mempunyai beban ganda. Selain bertugas untuk merawat anak dan mengurus keperluan rumah tangga, perempuan juga membantu pekerjaan suami. Pekerjaan ekstra yang dikerjakan oleh ibu-ibu rumah tangga itu seperti mengeolah perkebunan dan sawah, serta tidak sedikit perempuan yang menggantikan peran dan tanggung jawab laki-laki, khususnya bagi keluarga TKI. Seorang isteri secara otomatis menggantikan peran suami sebagai kepala rumah tangga dan mengurus semua keperluan rumah tangganya bila ditinggalkan suaminya bermigrasi untuk bekerja.

Peranan seorang perempuan yang dipandang strategis adalah adanya peran seorang isteri dalam mengelola keuangan keluarga, atau menentukan kebutuhan rumah tangga. Kebutuhan yang sifatnya menyangkut keuangan yang dikelola untuk melakukan bisnis atau usaha, tentunya isteri harus meminta pendapat dari suaminya. Dalam usaha yang sifatnya membutuhkan modal yang lebih besar keputusan biasanya ada dipihak suami. Tapi untuk pengelolaan usahanya tetap melakukan kerja sama.

Secara umum dalam penentuan segala kebijakan di tingkat masyarakat desa, perempuan memang jarang hadir dalam berbagai acara-acara yang sifatnya dalam menentukan kebijakan desa, namun suara dan pendapat tetap diakomudir untuk mengangkat pendapat perempuan.

Potensi Sumber Daya Alam

Sektor pertanian Desa Lendang Nangka Utara tercatat jumlah pemilik lahan persawahan sebanyak 531 orang; warga yang memiliki kebun sebanyak 1.775 orang; petani penggarap sebanyak 1.983 orang; sedangkan buruh tani sebanyak 2.250 orang. Dari sekitar 290 Ha lahan persawahan dan 331 Ha perkebunan.

Selain pertanian, penambangan juga dapat dijumpai di beberapa titik dan terhitung jumlah pengusaha yang bergelut dalam sektor pertambangan ini adalah pasir dan batu apung sebanyak tujuh orang.

Selain itu, petani ternak yang terdata di Desa Lendang Nangka Utara berjumlah 2.057 orang, peternak sapi; delapan orang peternak kambing dan 1.067 orang peternak ayam dan itik.

Tabel Sumber Daya Alam

URAIAN/BIDANG HASIL DISTRIBUSI
Pertanian

Sawah

 

 

Padi, 3-4 bulan/panen 6-7 Ton/Ha

= Rp.5.000.000,-

Beras

Tepung

Dedak, dll.

 

Pasar, Tengkulak (Pengepul), Rumah Tangga, dll.
 Cabai, 4-5 bulan/panen 70 kg/are x Rp.8.000,-= Rp.560.000,-

Bumbu, Saus, dll.

Pasar, Tengkulak (Pengepul), Rumah Tangga, dll.
Tomat, 3-4 bulan/panen

 

100 btg/are = 150 kg x Rp.500,- = Rp.75.000,-

Bumbu, Saus, Dodol Tomat, dll.

Pasar, Tengkulak (Pengepul), Rumah Tangga, dll.
Perkebunan

 

Nanas 50.000 btg/Ha x Rp.500,- = Rp.25jt

Kerepek, Jus, Dodol, Selay Nanas, dll.

Pasar, Tengkulak (Pengepul), dll.
Pisang Kerepek Pisang, Kolek, dll. Pasar, Tengkulak (Pengepul), dll.
Ubi Kerepek, Kue, Tepung, Tape, dll. Pasar, Tengkulak (Pengepul), dll.
Peternakan Sapi Sapi Hidup, Daging, Pupuk Organik, Biogas, dll. Pasar dan Tengkulak.
Ayam Kampung/Potong (Broyler) Ayam Hidup, Daging, Telur, Pupuk Organik, dll. Pasar, Tengkulak, (Pengepul), Rumah Tangga.
Air Air Irigasi, Air Bersih Lahan Pertanian, Rumah Warga
Pertambangan Batu Apung Batu Apung Karungan Pengepul
Batu pecahan Batu Material Bangunan Warga dan Pengepul
Pasir Pasir Material Bangunan Warga dan Pengepul

 

Perbanndingan luas Lahan perkebunan dan persawahan di Desa Lendang Nangka Utara:

Perkebunan (lahan kering)          : ± 60 % dari Luas Wilayah

Kepemilikan lahan untuk warga Petani Nanas rata-rata sekitar 0.50 Ha

Persawahan (lahan basah)           : ± 40 % dari Luas Wilayah

Kepemilikan lahan untuk warga Petani Padi rata-rata sekitar 0.25 Ha

Migrasi

Dalam tabel di bawah ini adalah catatan khusus yang dibuat untuk menjelaskan sejarah migrasi di Desa Lendang Nangka Utara:

No. Nama L/P Tahun Tujuan Biaya (Rp) Kali Rute Perjalanan Hasil
1 Sihun L 1980 Malaysia 100.000 11 Rumah-Rensing-Mataram-Lembar-Solo-Jakarta-Pkn Baru-Teluk Masjid-Malaysia Tidak ada
2 Marsiadi L 1984 Malaysia 125.000 4 Rumah-Kabar-Lembar-Denpasar-Surabaya –Jakarta-Pkn Baru-Bengkalis-Malaysia Kebun, Rumah, Sawah
3 Sehabudin L 1990 Malaysia 250.000 3 Rumah-Mataram-Lembar-Surabaya-Pekan Baru-Rempak-Bengkalis-Malaysia Beli gadai sawah
4 H. Nurul Yakin L 1992 Malaysia 250.000 2 Lombok- Surabaya – Johor Bahru Malaysia Rumah
5 Rossidi L 1995 Malaysia 300.000 3 Rumah-Mataram-Surabaya-Pekan Baru-Bengkalis-Malaysia Beli kebun
6 Marzuki L 1996 Malaysia 300.000 4 Rumah-Mataram-Surabaya-Pekan Baru-Bengkalis-Malaysia Beli kebun
7 Ahmad Rifa’i L 1998 Malaysia 650.000 2 Rumah-Lembar-Surabaya-Pekan Baru-Bengkalis-Malaysia Beli sapi
8 Jaharudin L 2003 Malaysia 3.000.000 2 Lombok-Kuala Lumpur Rumah
9 Zaenudin L 2003 Malaysia 4.500.000 2 Lombok-Kuala Lumpur Tidak ada hasil
10 Rohan L 2005 Malaysia 5.000.000 2 Lombok-Kuala Lumpur Tidak ada hasil
11 Aisah P 2006 Malaysia 250.000 4 Rumah-Mataram-Jakarta-Malaysia Biaya hidup keluarga
12 Murtini P 2006 Arab Saudi Gratis 2 Rumah-Mataram-Jakarta-Arab Saudi Bayar hutang, Rumah

 

Sejarah migrasi Desa Lendang Nangka Utara mulai dari tahun 1980-an. Rata-rata mereka yang pergi bermigrasi dipengaruhi oleh faktor himpitan ekonomi yang dialami oleh warga sehingga mendorong mereka untuk melakukan migrasi dengan tujuan memperbaiki ekonomi.

Dampak negatif dari bermigrasi juga memicu kerumitan kehidupan keluarga yang ditinggalkan, khususnya isteri yang menanggung fungsi ganda sebagai kepala keluarga menggantikan suami yang pergi bermigrasi. Selain itu isteri yang ditinggalkan rentan dan sensitif terhadap isu negatif dari bermigrasi yang mebatasi komunikasi sehat antara suami dan isteri. Selain dampak pada isteri, anak-anak juga akan kurang mendapatkan perhatian. Tidak jarang dari anak-anak TKI tertekan dan terdiskriminasikan oleh lingkungan.

Pengelolaan remittance TKI masih banyak dikelola untuk kebutuhan konsumtif saja. Selain itu juga sering menjadi pemicu konflik keluarga, karna di Lendang Nangka Utara rata – rata masih mengirimkan istri untuk kebutuhan sehari –hari saja. Dan sebaliknya kiriman lainnya akan ditujukan pada orang-orang yang dipercayai oleh TKI di kampungnya. Hal ini juga, berpotensi meretakkan hubungan keluarga.

Laki-laki Pertama yang Bermigrasi di Lendang Nangka Utara

Siapa sangka laki-laki separuh baya ini sudah sebelas kali pergi ke Malaysia menjadi TKI, dan terakhir dia pulang pada tahun 2010. Sihun (60Th) nama panggilanya, dia tidak pernah mengenyam pendidikan, sampai saat ini dia belum berumah tangga. Dia tinggal di rumahnya yang merupakan hasil migrasinya yang ke tujuh kali ke Malaysia di Dusun Benteng Selatan Desa Lendang Nangka Utara.

Pertama kali dia pergi sekitar tahun 1980-an, bersama dua orang temanya Mahsun dan Mahnan dari  Lendang Nangka Utara juga. Kemudian dia pulang setelah dua belas kali puasa, dia pulang sekitar tahun 1991, sepuluh tahun kepergian yang pertama tidak membawa hasil yang diharapkan. Kemudian sekitar dua bulan kemudian dia pergi untuk yang kedua kalinya, begitu juga seterusnya ia tidak mendapatkan hasil apa-apa. Baru dikepergianya yang ketujuh kali sekitar tahun 2000 silam, barulah ia bisa membangun sebuah rumah.

Putus cinta atau patah hati menjadi faktor utama yang ia tuturkan menjadi alasan dia meninggalkan kampung halamanya untuk pergi menjadi TKI ke Malaysia dengan ongkos pada waktu itu sekitar Rp.100.000,-. Uang itu didapatkan dengan menjual seekor sapi seharga Rp.150.000,- untuk ukuran sapi induk besar. Motivasi lainya adalah dia ingin pergi berhaji oleh dorongan dari salah seorang tokoh agama di kampungnya yakni Haji Jaelani yang selalu memberikan dia semangat untuk bangkit dari permasahan yang dialaminya.

Kronologi bermigrasi Sihun bersama ketiga orang temanya dimulai dari rumah seorang Tekong bernama Mamiq Su’ud di Rensing. Sehari di sana mereka lalu dibawa ke Mataram dirumah seorang Tekong juga bernama Ridwan dan diinapkan selama satu minggu lamanya. Selajutnya diberangkatkan menuju Solo dan ditampung selama dua minggu lalu dipindahkan ke Jakarta. Tiga hari di Jakarta, diberangkatkan ke Pekan Baru dan ditampung selama dua pekan. Dari sini mulailah kisah dramatis migrasi mereka. Melewati hutan belantara menggunakan rakit ke tempat bernama Teluk Masjid. Perahu Tongkang atau Pompong mereka menuju ke Sungai Apit, di sini mereka ditampung selama tiga minggu. Dari hutan kecil di sekitar tempat itu mereka menumpang boat yang akan menyebrangkan mereka ke wilayah Muar, Johor Bahru, Malaysia. Tapi, nasip yang tidak baik sesampai di negeri jiran itu mereka ditangkap oleh Polis Diraja Malaysia (PDRM) yang bergabung dengan Customs dari Pejabat Migresyen Malaysia. Kemuadian setelah ditangkap lalu bersama sekitar 250 orang temanya mereka dideportasi dari Batu Pahat dengan Pompong. Setelah dideportasi ternyata masalah tidak kunjung selesai. Oknum petugas dan tekong yang ada diperbatasan dengan dalih untuk menolong semua teman yang dideportasi waktu itu, malah menjual mereka samapai dengan 4 kali jualan dari tangan satu ketangan lainya. Sehingga harga persatu kepala mereka sekitar RM100. Baru kita diseberangkan lagi ke Malaysia, kemuadian barulah mereka berhasil lolos dari penjagaan petugas di Malaysia. Dan Bapak Sihun bisa bekerja di Negeri Sembilan, Malaysia.

Lewat ke baris perkakas