Namanya Baiq Aluh Agustini (25 Th), ibu satu anak ini adalah sosok ibu yang tangguh. Bagai mana tidak, dia bekerja selayaknya seorang lelaki. Membanting tulang, tanpa malu dan hanya mau untuk berjuang demi hidupnya. Dari sejak dia tamat dari Madrasah Aliyah Ulil Albab NW Gegek Desa Perian, Baiq Aluh memulai hidup mandiri.

Ia memulai ceritanya dari sejak ia bekerja di sebuah PJTKIS di Jakarta selama 4 bulan dan setelah itu ia malah mendaftarkan dirinya sebagai TKW ke Brunei Darussalam melalui PJTKIS lain pada tahun 2011 lalu. Di Brunei, Baiq Aluh bekerja selama 3 bulan 1 minggu pada sebuah restoran di sana. Sampai akhirnya seseorang laki-laki memperisterinya.

Seorang lelaki yang telah beruntung bersamanya menjadi suaminya ialah Haji Asrul Arhap (29 Th). Mereka berdua berasal dari Desa Kembang Kuning, yang tinggal di RT 03 Dusun Kembang Kuning. Walaupun mereka berasal dari kampung yang sama, tapi jodoh menemukan mereka di Brunei Darussalam.

Hingga kini, keluarga kecil Baiq Aluh hidup menjadi keluarga perantauan. Suaminya juga pernah ke Saudi Arabia pada tahun 2007 sampai dengan 2009. Sebelum mereka bertemu di Brunei pada tahun 2011 silam. Baiq Aluh juga pernah sekali mengikuti suaminya merantau ke Kalimantan, dan ia tinggal hanya 9 bulan lamanya di sana. Sampai sekarang suaminya telah 3 kali pulang pergi ke Kalimantan, dengan alasan ekonomi.

Baiq Aluh Agustini juga tidak tinggal diam, di rumah ia tetap bekerja untuk menghidupi keluarga kecilnya. Tidak tanggung-tanggung pekerjaan yang dilakukan olehnya. Menjadi buruh tani, menyabit rumput, jualan sayuran dan juga membuat kue-kue.

Menjadi buruh tani, Baiq Aluh berburuh begabah (panen padi) di sawah orang dan waktu itu hanya diupah Rp.25.000,- per hari. Selain itu, dia menerima jasa kadas sapi (paroan). Baiq Aluh rutin pergi menyabit rumput untuk sapi-sapi ternak, pekerjaan itu ditekuni selama 7 bulan dan Baiq Aluh cuma dapat bagian Rp.3.000.000,-.

Rutinitas lain yang dikerjakan Baiq Aluh juga adalah jualan sayur-sayuran keliling. Sayur ia stok dari Pasar Kotaraja sekitar 3,5 km dari Desa Kembang Kuning, dia mengaku dari jualan sayur tersebut dia hanya mendapatkan laba sekitar 10 ribu sampai dengan 30 ribu rupiah.

Dan sekarang Baiq Aluh telah diberikan sebidang tanah untuk ia bercocok tanam. “Sudah satu tahun ini saya bertani, ada tanah yang dikasi saya untuk digarap oleh mertua saya. Saya cuma tanam cabai saja di sana,” tutur Baiq Aluh. Kemudian dia memanfaatkan sepetak tanah seluas 15 are itu untuk menanam cabai.

Selain itu, Baiq Aluh Agustini adalah salah satu penerima manfaat Program Kemakmuran Hijau MCA-Indonesia melalui Konsorsium ADBMI & Friends di Desa Kembang Kuning. Salah satu kegiatan warga yang didorong adalah industri rumah tangga yang ramah lingkungan dan sensitif gender. Baiq Aluh mengusahakan produk Pisang Sale untuk pemanfaatan potensi lokal desa yang selama ini murah untuk diolah agar nilai jualnya bisa lebih tinggi di pasaran.

Melihat partisipasi dan keaktifan Baiq Aluh dalam berkegiatan, Konsorsium ADBMI & Friends dia direkomendasikan menjadi seorang kader dari Desa Kembang Kuning. Kini, dia adalah seorang fasilitator di desa yang akan memfasilitasi kegiatan-kegiatan warga penerima manfaat lainnya di sana. Setelah mengikuti pelatihan Training of Trainer oleh Konsorsium ADBMI & Friends beberapa waktu lalu, Baiq Aluh mengaku telah merasakan banyak perubahan pada dirinya. Seperti keterbukaannya terhadap interaksi sosial di masyarakat. “Saya orangnya tertutup, tidak mudah bergaul. Makanya saya takut sama kamera juga. Sekarang, saya sudah lebih berani berbicara di muka publik setelah mengikuti pelatihan TOT kemarin,” pungkasnya.

Lewat ke baris perkakas