ADBMI Foundation_Namanya Mashuri, pria kelahiran dua November 1997, ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara, dua laki dan tiga perempuan yang merupakan buah dari pasangan amaq Judin dan Inaq Gowan (almarhumah). Ia adalah satu dari sekian ratus pekerja migrant Indonesia (PMI) asal Indonesia yang mengalami kecelakaan kerja di negara Malaysia.

Terlahir dan besar dari keluarga tidak mampu, membuat Mashuri hanya mampu mengenyam pendidikan sampai bangku sekolah dasar (SD). Meskipun sempat mengenyam pendidikan di madrasyah tsnawiyah sampai kelas tiga, tapi karena tidak punya uang untuk membayar ujian, akhirnya terpaksa berhenti sekoah.

Setelah menganggur, ia sesekali membantu orang tuanya bekerja untuk membiayai kehidupan sehari-harinya. Hingga suatu hari, Mashuri bertemu dengan temannya bernama Renah dari dusun tetangga yaitu Dusun Midang.

Dengan niat membantu orang tuanya untuk memperbaiki ekonomi keluarganya, ia pun mengutarakan keinginannya untuk ikut menjadi PMI dengan Renah ke negara Malaysia Timur (Sabah). “Renah ini adalah pekerja migarant Indonesai yang sudah beberapa kali keluar masuk ke negara Malaysia Timur.

Sampai di negara Malaysia Timur, ia bekerja di perkebunan kelapa sawit dan tepatnya di Imbok, kota Bintulu, Sabah. Selama bekerja, dia berhasil membayar hutang ongkos keberangkatannya menjadi PMI ke negara Malaysia.

Kurang lebih 1 tahun ia bekerja di kota Bintulu (tempat pertama kali datang), kemudia ia pindah bekerja ke tempat yang baru, yaitu kota Sibu, Sabah, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya bekerja yang lama. Namun justru di tempat baru inilah petaka itu datang menghampirinya.

Awalnya sekitar empat belas hari Mashuri menganggur, pada akhirnya mendapat majikan baru, kemudian ditempatkan bekerja sebagai pemotong kelapa sawit. Namun naas, musibah itu datang. Dihari pertama ia bekerja dan langsung mengalami kecelakaan kerja, tersengat listrik tegangan tinggi untuk penerangan perkampungan warga yang kebetulan jalur pemasangannya melalui perkebunan kelapa sawit.

“Saat itu saya sedang memotong pelepah (daun) kelapa sawit, tiba-tiba pelepah tersebut jatuh ke atas kabel listrik. Saat itu masih memegang alat pemotong sawit dan akhirnya tersengat. Hampir satu jam saya bertarung menyabung nyawa, sebelum akhirnya ditolong oleh masyarakat yang saat itu melihat saya sudah dalam keadaan lemas, sebagian tubuh saya hitam dan gosong, terutama kaki dan tangan saya,” tutur Mashuri saat di wawancarai di rumahnya.

Setelah itu dia dibawa ke rumah sakit dan akhirnya terpaksa tangan dan kaki harus diamputasi. Untuk menyelamtakan organ tubuhnya yang lain, tim dokter sempat meminta dokumen dan perlengkapan identitasnya untuk memudahkan penanganan medis selama di rumah sakit. Namun ia tidak bisa menunjukkan, karena memang Mashuri masuk dengan visa lawatan/visa melancong.

Setelah kurang lebih 3 bulan mendapat perawatan dengan biaya gratis, karena pihak rumah sakit tidak bisa menghubungi keluarga yang akan bertanggung jawab untuk membiayai pengobatan, ia pun akhirnya dipulangkan melalui Pontianak. Sampai di Pontianak, ia kemudian dimasukkan ke Rumah Sakit Pontianak untuk menyembuhkan lukanya yang masih basah paska amputasi, sambil menunggu administrasi pemulangannya dari Dinas Sosial Pontianak.

Dari Pontianak, ia kemudian diberangkatkan melalui jalur laut menuju Jakarta, tepatnya di Dinas Sosial Bambu Apus yang kemudian sempat dirawat di Puskesmas, karena kondisi luka di kakinya sudah mulai busuk dan mengeluarkan belatung.

Selama hampir  sembilan bulan di kampung halaman, Mashuri mendapatkan kunjungan dari Dinas sosial Jakarta, Dinas Sosial Provinsi NTB dan Kabupaten Lombok Timur. Meskipun kunjungan dari dinas terkait belum memberikan bantuan yang layak  buat Mashuri seperti bantuan counseling pasca penyembuhan agar Mashuri bisa kembali semangat hidupnya.

Dalam kesempatan ini, Mashuri meminta bantuan dari semua pihak yang  peduli dan mau membantu agar sudi memberikan bantuan tangan palsu agar bisa memakai tongkat agar bisa beraktivitas layaknya manusia normal lainnya.

Selain itu, ia juga mengharapkan agar Pemerintah bisa memberikan pelatihan keterampilan untuk kaum diffabel agar bisa mencari dan melakukan aktivitas yang mendatangkan rizki untuk membantu orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari hari. (Fauzan)

 

 

 

 

Lewat ke baris perkakas