Desa Kembang Kuning adalah salah satu desa yang menjadi destinasi wisata alam di wilayah utara Kabupaten Lombok Timur. Desa-desa ini terletak di lereng Gunung Rinjani dan berbatasan langsung dengan Hutan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Letak geografis dengan bentang alam yang indah disajikan dengan aktifitas wisata pertanian menjadikan desa-desa di sini selalu ramai dikunjungi wisatawan mancanegara.

Namun, dalam perkembangan wisata dan persaingan bisnis wisata yang meningkat. Para pelaku wisata dituntut untuk melakukan inovasi kreatif dari aktifitas wisata untuk menambah daya jual pariwisata di sana.

Kopi Siong Kete, sebuah produk wisata yang ditawarkan oleh Musanif (27 Tahun), warga Dusun Benteng Daya Desa Kembang Kuning Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur. Sejak 2016, ia berkarya untuk membuat suatu inovasi yang diangkat dari rutinitas warga yang gemar meminum kopi. Mulai dari pemilihan biji kopi, lalu di-siong (Sasak: Sangrai) dengan kete (Sasak: wajan tanah), ditumbuk halus dengan lesung kayu, dan terakhir diayak. Proses pengolahan kopi inilah yang dijual pada wisatawan. Pengunjung juga langsung bisa mencicipi kopi yang diolah sendiri olehnya.

Penumbukan Kopi dengan Lesung Kayu

Harga yang ditawarkan kepada pengunjung untuk aktifitas pengolahan kopi tersebut adalah Rp.50.000,- per orang. Dan tidak jarang pengunjung juga tertarik untuk membeli kopinya. Satu pack bubuk Kopi Siong Kete dihargakan Rp.50.000,- juga per 250 gram kepada wisatawan.

Musanif salah seorang penggerak PINBID, dia pemuda yang kreatif dan energik. Sehingga PINBID (Pusat Inkubasi Bisnis Desa) yang dibentuk Konsorsium ADBMI & Friends di Desa Kembang Kuning mempercayakan padanya untuk menangani Bidang Dokumentasi dan Publikasi PINBID. Sebuah bidang yang bergerak mengolah informasi desa untuk mendukung kegiatan ekonomi di desa.

Untuk promosi ia gencar lakukan via media sosial dan Youtube. Musanif telah cekatan membuat konten video untuk diunggah di channel Youtube-nya. Itulah cara yang bisa dia manfaatkan untuk membesarkan usahanya.

Namun, kendala yang dialami Musanif adalah soal bahan bakunya. Bahan baku atau biji kopi dia dapatkan dari desa lain. Musanif menuturkan, “kopi yang baik itu ditanam pada ketinggian 700 mdpl, sedangkan Kembang Kuning terletak pada ketinggian sekitar 500 mdpl. Yang lebih cocok sebenarnya di Desa Jeruk Manis. Akan tetapi, petani di sana sudah mengalih fungsikan kebun-kebun kopi mereka menjadi kebun pisang. Jadi, saya beli saja dari Dahri di Timbanuh. Karena memang kopi dari Timbanuh kualitasnya juga lebih baik.”

Dan hingga sekarang ini Musanif bekerja sama dengan relasi PINBID dari Desa Timbanuh. Musanif biasanya membeli kopi dari Dahri penggerak PINBID Desa Timbanuh, dengan harga Rp.7.000,- per kilogram, untuk biji kopi yang masih mentah.

Konsep-konsep usaha seperti yang digiati oleh Musanif merupakan sebuah gagasan yang sejatinya ingin dikembangkan melalui PINBID di desa oleh Konsorsium ADBMI & Friends dalam Program Kemakmuran Hijau, MCA-Indonesia. Yakni, pemanfaatan potensi lokal desa, dan penggunaan teknologi tepat guna untuk mengembangkan ekonomi desa. Sehingga kegiatan-kegiatan tersebut, selain untuk mendongkrak keuangan warga desa, hal itu juga mampu merangsang kesadaran konservasi warga. Dengan sebuah inovasi, warga mampu meningkatkan nilai jual suatu komoditas, sehingga petani akan tertarik untuk tetap membudidayakan komoditas tersebut.

Lewat ke baris perkakas