Setiap orang pasti punya cerita fantasi yang indah dalam benaknya. Harapan memang selalu terlukis indah, seindah mungkin. Tapi, kenyataanya alam memiliki cerita sendiri untuk para pelukis hidup. Seperti cerita wayang, demikian manusia melakoni peran dari dalang dengan ceritanya yang tidak akan sama dengan apa yang terbayang dalam imajinasi itu.

Namanya Ida, lengkapnya Baiq Sri Hidayati (20 Th), belia usianya. Dia telah lama menantang dunia yang bila diterawang dengan sebelah mata akan terlihat timpang dan tak adil. Ida, dia sosok yang telah terlatih oleh alam ini, ia menjelma menjadi seorang yang tegar dan berani.

Tahun 2008 bulan November, kala itu ia baru saja duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar, memulai catatan kelam cerita hidupnya. Ayahnya Lalu Muhammad Ali telah pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Ida bersama adik laki-lakinya tinggal dan bergantung hanya pada ibunya.

Baiq Fatimah, memang seorang ibu yang hebat bagi Ida. Beliau mengajarkannya tentang perjuangan hidup. Bertahan hidup dengan membuka warung kecil-kecilan di pojok depan rumahnya. Ibunya juga telah lama menyambi menjadi pengusaha tembakau Virginia setiap musim tanam, musim kemarau. Hingga sampai pada satu waktu di tahun 2014, usaha tembakau yang digeluti ibunya jatuh bangkrut. Sehingga memaksanya pergi merantau menjadi seorang TKW ke Brunnei Darussalam sebagai pembantu rumah tangga di sana.

Ida yang telah tumbuh remaja, belajar Tata Boga di SMKN Kotaraja. Dia tinggal, menumpang bersama seorang adik laki-lakinya pada keluarga pamannya selama ibu pergi ke rantauan. Ida remaja mencoba untuk mulai melangkah dan menjemput harapan-harapan yang didambakannya. Dia tidak ingin terus menunggu, dia tidak ingin ibunya berlama-lama menanggung hidup keluarga kecilnya.

Cita-Cita yang Dirahasiakan

Alhamdulillah, saya pernah mendapat juara III di kelas. Tapi, waktu Ibu cukup lama hilang tanpa berkabar, nilai saya jatuh, saya dapat ranking 6 di kelas,” tuturnya. Ida menceritakan betapa berartinya kehadiran ibu, dan dia selalu berharap ibu pulang cepat dan kembali menemani dia dan adiknya. Sampai-sampai dia tidak ingin melanjutkan belajarnya ke perguruan tinggi. “Saya memang sangat ingin belajar lagi, tapi saya tidak mau jika ibu akan terbebani oleh biaya kuliah saya nantinya dan dia akan lebih lama lagi merantau di sana,” sambil berkata pelan, Ida beralasan.

Setelah tamat SMK di tahun 2016, ibunya Ida pun pulang dari Brunnei. Ida mulai mengaplikasikan keterampilan yang didapat selama menuntut di SMK, dia memulai usaha goreng-gorengan untuk dijual pada anak-anak SD yang kebetulan ada tepat di depan rumahnya. “Sebenarnya saya pernah buka usaha keripik pisang sewaktu saya masih sekolah dulu, tapi bangkrut,” sambil tertawa Ida mengingatnya. Hingga kini Ida telah banyak membuat produk makanan olahan seperti Magic Jahe buatannya yang pernah dipasarkan sampai di Gili Terawangan. Dia juga menerima pesanan kue-kue kering.

Ida yang energik punya motivasi tinggi dalam hidupnya. Langkah-langkahnya dimantapkan dan masa lalu telah ia maafkan, dia telah ikhlas dengan hidupnya adalah garis takdir yang telah tersirat dalam catatan harian hidupnya di Lauhil Mahfuz.

Walau pun dia masih sangat muda, Ida warga Jimse Dusun Jimse Desa Lendang Nangka Utara adalah seorang yang diperhitungkan di sana. Pusat Inkubasi Bisnis Desa (PINBID) Desa Lendang Nangka Utara memilihnya sebagai pengurus pada Bidang Pengembangan & Konsultasi Bisnis dan telah diutus sebagai perwakilan PINBID pada pelatihan Training of Trainner (TOT) yang diselenggarakan oleh Konsorsium ADBMI & Friends beberapa waktu lalu. Baiq Sri Hidayati kemudian akan memfasilitasi warga desa untuk mengembangkan usaha rumahan berbasis potensi lokal dan ramah lingkungan yang bernaung di bawah PINBID Desa Lendang Nangka Utara. (Abed)

Lewat ke baris perkakas