Migrasi merupakan salah satu alternatif primadona bagi warga yang ingin mengubah kehidupannya dan keluarganya di tengah sulitnya memperoleh pekerjaan di negeri sendiri. Bukan hanya saat ini bahkan sudah berpuluh-puluh tahun lalu ternyata sudah banyak warga yang sudah bermigrasi. Tak terkecuali Desa Tetebatu yang berada di bawah kaki Gunung Rinjani yang juga merupakan salah satu destinasi wisata yang dimiliki Lombok Timur. Akan tetapi keuntungannya tidak bisa dirasakan oleh banyak warga yang ada di desa tersebut, karena berbagai faktor di antaranya yang sangat mendasar adalah faktor skill dan pendidikan. Sehingga hanya dinikmati oleh kalangan yang mempunyai skill, pendidikan dan modal yang cukup saja.

Sementara mereka yang tidak memiliki keterampilan dan kemampuan terpaksa harus bermigrasi demi mencukupi kebutuhan keluaraganya. Dan demi merubah hidup yang lebih layak, demi membangun tempat tinggal yang lebih nyaman, juga demi mendapatkan fasilitas seperti yang dimiliki oleh orang lain. Migrasi warga di Desa Tetebatu, tidak satu atau dua kali bahkan juga berulang-ulang kali, terus menerus.

Melihat fenomena migrasi yang demikian ADBMI & Friends melalui program Kemakmuran Hijau atau Green Prosperity Project MCA-Indonesia memilih Desa Tetebatu menjadi salah satu desa binaan yang diprogramkan untuk mengembangkan ekonomi rumah tangga buruh migran. Sehingga buruh migran serta keluarganya tidak hanya memanfaatkan remittance dengan tata kelola yang konsumtif tetapi juga memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada sebagai sumber pendapatan lainnya.

Maksud dan Tujuan

Penyusunan Dokumen Kajian Ekonomi dan Sosial Desa Tetebatu berbasis masyarakat ini bertujuan untuk:

  1. Mengidentifikasi dampak migrasi pada masyarakat dari sisi ekonomi, sosial dan budaya berbasis pengelolaan sumber daya alam yang sensitif gender.
  2. Sebagai panduan masyarakat dan Pemerintah Desa serta para pihak dalam pengentasan kemiskinan BMI dan keluarganya melalui pengembangan bisnis alternatif yang sensitif gender.

Proses dan Metodelogi Pelaksanaan Analisa Sosial

dalam mendapatkan berbagai data yang terdapat dalam kajian analisa sosial (Ansos) ini kami melaksanakan berbagai proses dan metodelogi pengumpulan data antara lain:

  1. Interview door to door komunitas BMI;
  2. Kunjungan dan pendampingan kepada tokoh masyarakat, perempuan, pemuda dan tokoh adat;
  3. Survey dan assesment kepada warga penerima manfaat;
  4. Komunikasi dan koordinasi bersama Pemerintah Desa dan Dusun;
  5. Diskusi Komunitas untuk Database I dan II;
  6. Lokakarya Desa untuk Database;
  7. Live in dan observasi lokasi binaan.

SEJARAH DESA

Desa Tetebatu merupakan salah satu desa pemekaran dari desa induknya yaitu Kotaraja, Kotaraja sendiri pada saat itu dibagi dalam dua wilayah yakni Kotaraja Utara meliputi Tetebatu dan Kembang Kuning dipimpin oleh Mamiq Rumilang sementara Kota Raja Selatan terdiri dari Kota Raja dan Loyok. Dan pada tahun 1969, Tetebatu  mekar menjadi desa tersendiri yang dipimpin oleh Kepala Desa perdana yakni Amaq Masri.

Penamaan Desa Tetebatu sendiri diambil dari adanya sebuah Tetebatu yang berada di sebelah timur Dusun Tetebatu. Tete dalam bahasa Indonesia artinya jembatan dan batu sendiri adalah batu, jadi Tetebatu menurut bahasa artinya jembatan batu. Akan tetapi keberadaan jemabatan batu tersebut secara pasti tidak ada yang mengetahuinya. Dari cerita seorang guru dari Kotaraja mengatakan bahwasanya tete batu tersebut dibuat oleh seorang datu dari Kotaraja yang waktu itu pergi berburu hewan ke hutan dan melewati daerah Pancor Yebo (Lingsar) ketika dia menyebrang terjadi banjir disungai tersebut dan berinisiatif mengambil batu menjadi titiannya.

Ada beberapa alasan pemekaran Desa Tetebatu dari Desa Kotaraja adalah:

  1. Penduduk Tetebatu yang cukup padat;
  2. Jarak tempuh ke kantor desa yang cukup jauh;
  3. Penolakan penduduk di Tetebatu, yang tanah-tanahnya banyak dikuasai oleh orang-orang Kotaraja dan Tetebatu merasa terjajah.

KONDISI GEOGRAFIS

Desa Tetebatu merupakan salah satu Desa yang berada di wilayah Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat dan berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Dilihat dari letak geografis wilayahnya, Desa Tetebatu berada di ketinggian 700/9000 mdpl dengan topografi wilayah berbukit yang digunakan untuk areal persawahan, perkebunan dan pemukiman warga. Curah hujan rata-rata 4000 mm/tahun dengan jumlah curah hujan 6 bulan dan suhu rata-rata hariannya 250 C. Secara administratif, Desa Tetebatu terdiri dari 5 Dusun, ddan 40 RT, yaitu: Dusun Tetebatu (12 RT), Orong Gerisak (8 RT), Lingkung Daye (5 RT), Lingkung Lauk (9 RT) dan Kembang Seri (6 RT). Luas wilayah Desa Tetebatu sekitar 8.098,8  Ha. Dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

Utara Desa Jeruk Manis dan TNGR
Selatan Desa Tetebatu Selatan
Timur Desa Kembang Kuning dan Jeruk Manis
Barat Desa Tetebatu Selatan

 

Jarak Desa Tetebatu dari ibukota kecamatan sekitar 14 km, dapat ditempuh sekitar 30 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor. Sedangkan dari ibukota kabupaten Desa Tetebatu ini berjarak sekitar 24 km dan berjarak 46 km dari ibukota provinsi. Untuk mencapai desa ini dapat menggunakan kendaraan bermotor maupun angkutan umum.

Demografi

Penduduk

Menurut data Profil Desa Tetebatu tahun 2016, jumlah penduduk di Desa Tetebatu tercatat 8.596 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga 2.635 KK, yang terdiri atas laki-laki 4.009 jiwa dan perempuan 4.587 jiwa.

Kondisi Perekonomian

Kondisi perekonomian Desa Tetebatu dengan bentang alamnya yang kaya berpotensi sebagai destinasi wisata alam yang telah cukup lama menjadi tujuan turis mancanegara. Berbanding terbalik dengan mata pencaharian warga. Mata pencaharian yang banyak mereka lirik adalah sebagai TKI ke luar negeri, sementara keluarga yang ditinggalkan berprofesi sebagai petani, buruh tani, peternak, buruh ternak, pedagang dan pemandu wisata. Akan tetapi yang disebutkan dua terakhir, jumlahnya haanya bisa dihitung dengan jari. Hal yang membuat kondisi demikian adalah faktor kepemilikan lahan yang sangat minim dari warga sekitar, ketrampilan dan tata pengelolaan yang belum mumpuni.

Kondisi Sumber Daya Alam

Potensi Pertanian dan Perkebunan

Desa Tetebatu merupakan daerah di dataran tinggi dengan jenis tanah yang berpasir dan berwarna hitam keabu-abuan. Adapun pembagian wiayah menurut penggunaannya adalah sebagai berikut :

Tabel 7.1  Luas wilayah menurut penggunaan

Wilayah Luas
Pemukiman 3.401 ha / m2
Persawahan  386 ha / m2
Perkebunan  280 ha / m2
Kuburan  1,8 ha / m2
Perkarangan  4.021 ha / m2
Taman – ha / m2
Perkantoran 800 ha / m2
Prasarana umum lainnya 6 ha / m2
Total Luas Wilayah 8.095,8 ha / m2

Kepemilikan lahan pertanian dan perkebunan oleh masyarakat asli di Tetebatu sanagat sedikit karena banyak dikuasai oleh orang dari luar desa seperti Kotaraja, Tuan Guru Bodak (48 Ha), Tuan Guru Sundak dan lainnya. Hal ini berakibat kepada mata pencaharian warga banyak menjadi buruh tani dan buruh ternak.

Komuditas lokal dan jenis tanaman yang banyak ditanam di lahan pertanian adalah tembakau, cabe, jagung, padi dan kacang tanah. Untuk cabai warga mulai menanam sekitar tahun 2013 yang merupakan buah hasil pembelajaran mereka sesama TKI di Malaysia yang diterapkan di kampung halaman.

Untuk komoditas hasil perkebunan yang banyak adalah pisang, durian, advokad, kopi, cengkeh dan nangka.

Potensi Peternakan dan Budidaya

Untuk potensi ternak di Desa Tetebatu, sebagian besar keluarga beternak sapi. Ternak sapi ini dianggap sebagai investasi atau sejenis tabungan keluarga. Ternak sapi ini bisa dikembangkan secara maksimal oleh masyarakat karena dari sisi keamanan sangat memungkinkan. Didukung dengan ketersediaan pakan ternak sendiri sangat mudah didapat. Pakan ternak yang dikembangkan jenis rumput gajah. Rumput gajah ditanam dengan memanfaatkan lahan di sekitar pingir sungai, pematang sawah, pinggir jalan dan kebun. Sedangkan untuk ternak kecil dikembangkan jenis ayam kampung dan bebek. Adapun jenis populasi ternak di Desa Tetebatu dapat dilihat seperti tabel di bawah ini:

Budidaya dan Peternakan

NO KOMODITAS HASIL PRODUKSI/PENGOLAHAN TANTANGAN PENGEMBANGAN USAHA
1 Ayam Lauk, kotorannya jadi pupuk Minim penegtahuan dalam pengelolaan akibatnya merigi, bau kotoran dikeluhkan masyarakat
2 Sapi Lauk, pupuk, bio gas, pentol, Bibit unggul kurang, masih menunggu bantuan pemerintah, tidak sesuai dengan kondisi cuaca, kotoran yang dibuang diparit dikeluhkan masyarakat
3 Kambing Lauk, pupuk, bio gas Bibit unggul kurang, masih menunggu bantuan pemerintah, tidak sesuai dengan kondisi cuaca, kotoran yang dibuang diparit dikeluhkan masyarakat
4 Itik Lauk/lalapan, telur Lingkungan kotor akibat kotorannya, biaya budi daya lebih tinggi dari penghasilan, peminat makan daging minim
5 Ikan Lauk/lalapan, Kondisi air yang tidak menetap, skill budi daya minim, anggapan masih kerja sampingan, kondisi air yang kotor akibat kotoran ternak
6 Lele Lauk/lalapan, Kondisi air yang tidak menetap, skill budi daya minim, anggapan masih kerja sampingan, kondisi air yang kotor akibat kotoran ternak
7 Jamur Sate, crispy, sup, sayur Biaya produksi tinggi, skill budi daya kurang
Potensi Wisata

Salah satu potensi yang dimiliki oleh Desa Tetebatu adalah potensi wisata. Destinasi wisata Desa Tetebatu merupakan desa yang berbatasan langsung dengan TNGR. Sehingga potensi ini menjadi incaran wisatawan lokal maupun asing untuk berkunjung di sana.

Potensi wisata yang banyak diincar oleh para wisatawan asing di desa ini antara lain adalah areal persawahan, areal hutan, air terjun, prosesing kopi tradisional, areal perbukitan dan masih banyak lagi hal lain yang bisa menjadi objek promosi wisata di Desa Tetebatu.

Dan penunjang wisata yang berkunjung ke Desa Tetabatu, banyak warga sudah mulai menyiapkan penginapan home stay dan warung tempat mereka makan minum. Akan tetapi satu hal yang belum ada di desa ini sebagai pelengkap kebutuhan wisatawan yaitu oleh-oleh khas Tetebatu. Untuk itu pada setiap kesempatan diskusi keinginan ini sering muncul dari kader, pemuda dan penggiat wisata di desa ini.

Kondisi Infrasutruktur

Adapun kondisi infrastruktur yang terutama sekali adalah jalan yang kondisinya sebagian sangat memperihatinkan apalagi sewaktu hujan besar jalan-jalan yang menghubungkan antar dusun ke dusun ini akan beralih menjadi sungai dan menghanyautkan banyak sampah, tanah dan batu.

 Tabel 8.1 Kondisi Infrastruktur Desa Tetebatu

No Fisik Jumlah Kondisi
1 Gedung Kantor Desa 1 Unit Baik
2 Jalan Kabupaten 1 Km Baik
3 Home stay/hotel 12 Buah Baik
4 Pos Kamling 5 Unit Baik
5 Masjid 5 Buah Baik
6 Mushalla 15 Buah Baik
7 Lapangan Voly 1 Unit Baik
8 Meja Pingpong 1 Unit Baik
9 Puskesmas Pembantu 1 Buah Baik
10 Posyandu 7 Buah Baik
11 Gedung SMP 1 Buah Baik
12 Gedung SD / Sederajat 5 Buah Baik
13 Gedung TK / PAUD 4 Buah Baik
14 Perpustakaan Desa 1 Buah Baik
15 Mata Air 5 unit Baik
16 MCK Umum 8 Unit Baik
17 Jamban Keluarga 110 KK Baik

Kondisi Sosial Budaya

Berbicara social issue dan budaya yang terkenal di desa ini adalah tingginya angka pernikahan di bawah umur. Dan yang marak terjadi di sekitar dusun yang langsung berbatasan dengan TNGR yakni Orong Gerisak, Lingkung Daya dan Kembang Seri. Dusun Kembang Seri menyumbang angka pernikahan di bawah umur paling tinggi sekaligus penyumbang janda muda terbanyak. Menurut kajian yang kami lakukan di warga ada beberapa alasan kenapa anak-anak banyak menikah dan dinikahkan oleh orang tuanya ketika masih belum cukup umur:

  1. Adanya ketakutan dicap tidak laku dan menjadi perawan tua;
  2. Tidak mampu memenuhi kebutuan sehari-hari;
  3. Angka putus sekolah dan tidak melanjutkan sekolah yang cukup tinggi;
  4. Orang tua atau salah satu orang tua menjadi TKI sehingga berimbas pada kurangnya perhatian yang mereka peroleh;
  5. Agar tanggung jawab secepat mungkin berpindah pada orang lain;
  6. Adanya anggapan ini adalah trend;
  7. Faktor suhu pegunungan yang dingin juga bagian menjadi pemicunya.

Di samping tingginya angka pernikahan di bawah umur di Desa Tetebatu, ada juga beberapa permaslahan sosial yang lain yang banyak timbul di desa ini anatara lain:

  1. Tingginya angka perceraian;
  2. Tingginya angka putus sekolah;
  3. Banyak dijumpai perempuan di desa ini menikah dari 3 sampai 6 kali;
  4. Angka perselingkuhan istri para pelaku migrasi cukup banyak;
  5. Anak menjadi kepala keluarga;
  6. Adanaya persainagan yang tidak sehat antara anak TKI dalam hal kepemilikan HP dan motor.

Berbicara budaya warga Tetebatu masih memegang adat istiadat yang biasa dipakai terutama dalam hal pernikahan dan penyambutan tamu. Hal ini dibuktikan dengan adanya lembaga adat yang diberi nama “Sugeng Rauh”, yang mana tokoh adatnya berfungsi untuk menjalankan segala proses pernikahan seperti besejati, nyelabar, sorong serah aji krama dan lainnya. Untuk penyambutan tamu tokoh adat juga difungsikan untuk memakaikan tamu baju adat Sasak, diarak dengan gendang bleq, peresean, menari tarian Sasak dan begibung.

Maka yang menjadi bagian penting dari program ini adalah bagaiamana menjamin keluarga TKI aman dan sejahtera terutama sekali anak-anak TKI yang ditinggalkan yang jumlah begitu banyak.

Kehidupan Sosial Perempuan

Melihat perspektif gender di Desa Tetebatu dari kacamata kesetaraan gender, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :

  • Relasi perempuan dengan laki di level keluarga dan masyarakat

Relasi antara laki dan perempuan hampir tidak memiliki sekat namum sering kali beban kerja bagi perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki, karena selain bekerja di dalam rumah perempuan juga dituntut untuk bekerja di luar rumah yaitu di sawah dan ladang untuk membantu pekerjaan suami dan keluarga mereka. Di sektor pertanian misalnya, selain menyiapkan masakan untuk keluarga perempuan juga dituntut untuk menyiangi dan mengairi sawah bahkan sampai mengangkut beban berat dari sawah ke rumah. Atau di sektor peternkan misalnya perempuan harus mengambil rumput di hutan untuk makanan ternak dan dipikul sendiri.

  • Akses dan partisipasi dalam Pembangunan Desa

Masyarakat Desa Tetebatu lebih cendrung memilih laki-laki dari pada perempuan dalam segala posisi disebabkan karena faktor geografis Desa Tetebatu yang terhitung jauh dari pusat kecamatan atau kabupaten, kondisi lahan yang sangat miring, berbatasan langsung dengan hutan lindung dan TNGR serta perempuan menganggap dirinya tidak begitu penting atau layak menduduki posisi tersebut. Kondisi tersbut menyebabkan perempuan hanya memiliki peranan di masyarakat atau di desa pada persoalan domistik, dan sebagian berkiprah dalam pelayanan Posyandu. Sehingga tidak satupun perempuan yang menjabat pada struktural pemerintahan desa. Posisi strategis yang bisa di tempati oleh perempuan di desa atau di masyarakat adalah sebagai pengurus PKK. Kaur Keuangan di kantor desa dan sebagai seksi konsumsi atau bendahara di setiap kepengurusan.

  • Kebijakan dalam Rumah Tangga

Profesi yang dilakoni warga Desa Tetebatu sangat beragam, ada yang sebagai petani, buruh tani, peternak, buruh ternak, pelaku wisata dan lain-lain. Dengan keberagaman profesi tersebut tidak menjadi batasan bagi masyarakat untuk menjalin hubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Tetapi jika ditinjau dalam keluarga misalnya relasi antara laki dan perempuan bagi masyarakat Desa Tetebatu masih lebih mendominasi laki-laki dari pada perempuan. Misalnya dalam pengaturan rumah tangga yang cendrung menginisiasi segala sesuatunya adalah para lelaki.

  • Manfaat

Kecenderungan laki-laki yang lebih banyak terlibat daripada perempuan sangat berdampak positif terhadap laki-laki, misalnya dalam struktur pemerintahan atau kelembagaan lebih dominan laki-laki yang menjadi pengurus dibanding dengan perempuan.

Pemerintahan dan Kelembagaan Desa

Desa merupakan sebuah wilayah administratif yang berada di bawah tingkat kecamatan, yang terdiri dari beberapa pemukiman kecil yang disebut dengan dusun, kampung, banjar, maupun jorong. Menurut PP Nomor 72 tahun 2005 menyatakan bahwa desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah dan memiliki kewenangan untuk mengatur serta mengurus kepentingan masyarakat setempat yang berdasarkan pada asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Seluruh proses pemerintahan desa dikendalikan oleh Pemerintah Desa bersama dengan BPD, sedangkan di bagian kepemudaan ada lembaga Karang Taruna sebagai wadah aspirasi dan bakat pemuda. Sedangkan untuk gerakan kaum perempuan ada PKK dan sebagai Kader Posyandu  yang mana jumlah pengurus PKK di Desa Tetebatu sebanyak 34 orang dan Kader Posyandu sebanyak 30 orang.

Dalam pelaksanaan pelayanan pemerinthana di desa, Kepala Desa dibantu oleh Sekertaris Desa (Sekdes) dan 6 Kepala Urusan (Kaur) dengan fungsi yang berbeda-beda. Dan ada 5 orang Kepala Dusun yang membantu Kepala Desa untuk menyelenggarakan tugas kepemimpinannya.

SEJARAH MIGRASI

Peletak Sejarah Migrasi

Migrasi di Tetebatu berawal sekitar tahun 1980-an, adapun orang yang pertama kali bermigrasi di desa ini adalah Amaq Mulyasih yang berangkat sekitar pada tahun 1982. Kemudian setelah itu ia menjadi perekrut TKI di desanya. Salah satu TKI yang direkrut adalah Amaq Karyawanto dari Dusun Lingkung Daye, dia berangkat sebagai tenaga kerja pada saat itu menggunkan jalur undocuments (Illegal). Dia berangkat melalui jalur laut dengan rute Lembar menuju Surabaya, dari Surabaya menuju Bengkalis dengan estimasi biaya Rp.150,000,-. Biaya tersebut diperoleh dengan cara berhutang di tetangga. Di Bengaklis Amaq Karyawanto ditampung selama 20 hari, kemudian dia diselundupkan ke Malaysia Barat dan bekerja di sektor perkebunan kelapa sawit.

Setelah masyarakat menegetahui bahwa bekerja di Malaysia cukup menjanjikan baik lewat warga yang sudah pergi dan bujuk rayu tekong yang sudah mulai bergantayangan pada tahun 1990-an, akhirnya wargapun banyak yang berbondong-bondong berangkat ke Malaysia baik yang menggunakan jalur perseorangan, jalur illegal maupun jalur tekong/PPTKIS.

Timeline Migrasi

Kemudian untuk beberapa TKI dan prosesnya kami gambarkan melalui table berikut ini:

No Nama Tahun Negara tujuan Hasil Jalur Proses
1 Aq Mulyasih 1982 Malaysia Gagal laut undocument
2 Aq Karyanto 1983-1987 Malaysia Gagal Laut Undocument
3 Muliah 1987 Malaysia Buat rumah, beli helr, usaha tembakau Laut Undocument
4 Ruhul qudus 1993 Malaysia Gagal Laut Undocument
5 Sumaedi 1994 Malaysia Gagal Laut Undocument
6 Taprudin 2000 Malaysia Buat rumah, bayar hutang, kembalikan sawah pesawat berdocument
7 Nasrudin 1995-2016 Malaysia Gagal Pesawat Document + undocument
8 Sakiyah (tkw) 2006 Saudi Arabia Buat rumah dan naik haji Pesawat Document
9 Irsan (TKW) 2008-2016 Saudi Arabia Buat rumah & beli sawah Pesawat Document
10 Harianti (TKW) 2015 Malaysia Bayar hutang pesawat Document

Faktor Penyebab Bermigrasi

Faktor warga bermigrasi ke luar negeri, cukup dikatakan seragam yaitu faktor ekonomi yang tak mendukung di daerah sendiri, akan tetapi ada beberpa faktor lain juga yang kemudian membuat warga bermigrasi dari periode perdana ke periode selanjutnya antara lain:

  1. Mencari penghasilan yang cukup besar;
  2. Perceraian (single parent);
  3. Mencari modal usaha;
  4. Ingin membuat rumah;
  5. Terlilit hutang;
  6. Ingin menyekolahkan anak;
  7. Kepemilikan lahan pertanian yang semakin berkurang dan lebih banyak dikuasai oleh orang dari luar desa sehingga menuntut mereka menjadi buruh di desa sendiri;
  8. Cerita-cerita keberhasilan keluarga, tetangga, sahabat bahkan bujuk rayu tekong;
  9. Faktor tidak lulus kuliah dan sekolah;
  10. Malaysia saat itu menjadi primadona tujuan migrasi dan tidak ada informasi tentang negara lain tujuan migrasi.
  11. Gagal panen/hasil pertanian tidak menjanjikan terutama tanaman pertanian.

Biaya Migrasi

Bermigrasi ke luar negeri tidak terlepas dari biaya keberangkatan dan persiapan, dilihat dari periode yang satu k periode yang lainnya tentunya bebeda-beda, dari beberapa warga desa Tetebatu yang kami jumpai bahwasanya biaya bermigrasi pada periode perdana pada tahun 1980-an berkisar pada angka Rp.100.0000 sampai dengan Rp.150.000. Dan dengan rute migrasi melalui jalur darat dan laut. Berbeda dengan pada tahun 1990-an mencapai Rp.200.000 ketika menggunakan jalur laut dan berkisar Rp.2.000.000 sampai dengan Rp.2.500.000 dengan menggunakan pesawat terbang. Pada periode berikutnya kisarana tahun 2000-an biaya migrasi semakin mahal, kalau menggunakan pesawat terbang biaya bermigrasi menyasar pada angka Rp.3.000.000 sampai dengan Rp.3.500.000, sedangkan untuk jalur darat dan lautan berkisar pada angka Rp.1.000.000.

Sedangakan sumbernya pembiayaan bermigrasi dari masa ke masa relative masih sama yaitu dengan menjual/menggadai asset yang dimiliki seperti menjual sapi, menggadai sawah, berhutang terkadang juga ada yang minjam sama keluarga ataupun tetangga. Akan tetapi ketika meminjam harus mengembalikan dalam jumlah yang lebih. Akibatnya remittance yang dikirim ke keluarga habis dipakai untuk membayar hutang dan sepulangnya tidak menjumapai sedikitpun hasil yang diperoleh dari ber-TKI.

Proses dan Jalur Migrasi

Proses yang banyak dipakai oleh warga bermigrasi dari periode ke periode antara lain: perseorangan, illegal (gelap), melancong dan jalur resmi melalui PPTKIS. Tetapi pada periode perdana banayak di anatara warga yang memilih jalur gelap/undocuments, tidak memikirkan resiko karena masih pada saat itu tidak terlalu ketat dan juga masih belum bergentayangannya tekong-tekong ke pelosok desa.

Adapun jalur yang dipakai warga bermigrasi pada periode perdana adalah dengan menggunakan  jalur darat dan laut sehingga membutuhkan beberapa hari sampai 1 minggu di tengah laut. Lalu kemudian pada periode 1990-an para TKI sudah ada yang menggunakan pesawat. Rute yang ditempuh mana kala TKI bermigrasi dengan menggunakan jalur laut yaitu: Tetebatu-Lembar-Tanjung Periuk, Jakarta-Malaysia  Barat. Ada juga jalur yang lain: Tetebatu-Lembar-Padang Bae-Jember-Jakarta Utara-Tanjung Pinang.

Perubahan Pasca Migrasi

Migrasi ke luar negeri ternyata banyak menimbulkan perubahan di tengah masyarakat ketika para pahlawan devisa itu balik dari negeri jiran, perubahan-perubahan tersebut bisa saja bertahan dalam waktu yang pendek maupun dalam jangka waktu yang panjang. Di antara perubahan yang dibawa oleh pahlawan devisa tersebut yaitu perubahan gaya penampilan berpakaian, bahasa, dan arsitektur rumah. Ada juga perubahan cara tanam dan variasi tanaman seperti sudah mulainya para mantan pahlawan devisa ini menanam cabai yang konon katanya mereka diajarkan para TKI dari kawasan timur seperti Suralaga, Wanasaba dan Pringgabaya. Perubahan prilaku, dari yang sering masuk hutan dan melakukan perusakan, sekarang tidak lagi mereka dilakukan. Ada juga kepemilikan motor yang hampir setiap rumah di kawasan ini punya 1 sampai dengan 3 motor, dari yang gagap teknologi sekarang sudah mulai memanfaatkan teknologi. Bukan saja HP akan tetapi komputer juga dan sudah bisa mengakses internet. Rata-rata mereka semua aktif di jejaring sosial seperti Facebook.

Ukuran Kesuksesan Migrasi

Indikator kesuksesan warga dalam bermigrasi tergolong masih klasik artinya masih tidak jauh beda dengan indikator kesuksesan pada awal-awal bermigrasi. Beberapa indikator kesuksesan yang kami bisa rangkum dari kunjungan warga dan diskusi komunitas antara lain:

  1. Dapat membangun rumah;
  2. Bisa membeli dan mengganti motor bahkan ada yang sudah membeli mobil;
  3. Mampu membeli dan gonta ganti HP canggih;
  4. Dapat menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang yang lebih tinggi;
  5. Dapat memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari;
  6. Sebagian kecil sudah bisa membuka usaha berinvestasi (investasi ternak, tanah dll);
  7. Dapat melunasi hutang;
  8. Menyewa lahan pertanian;
  9. Mencari modal untuk menikah (bagi yang muda).

Pandangan Umum Masyarakat Terhadap Buruh Migran Perempuan (TKW)

Pandangan umum masyarakat terhadap buruh migran perempuan atau Tenaga Kerja Wanita (TKW). Dari data jumlah TKI/TKW yang dirilis di atas sangat jelas sekali jumlah TKW hanya 30 dan buruh migran laki-laki sebanyak 532 orang dari jumlah keseluruhan 562 orang TKI di Desa Tetebatu. Ternyata hal ini sangat dipengaruhi oleh cara pandang masyarakat kepada perempuan bahwa:

  1. Perempuan kurang baik apabila bepergian sendiri apalagi jauh walaupun itu untuk mencari nafkah, karena perempuan adalah tulang rusuk bukan tulang punggung.
  2. Perempuan masih dianggap sebelah mata oleh warga ketika melihat dan mengetahui adanya TKI Perempuan, karena image yang berkembang ketika mereka di negeri tujuan paling jual diri atau diistilahkan bisok botol yang artinya mencuci botol. Sehingga warga tidak memberikan izin terhadap perempaun yang ingin bermigrasi.

Perempuan cenderung berpotensi mendapatkan kekerasan sehingga warga khawatir kalau terjadi yang tidak diinginkan pada keluarga perempuannya yang menjadi buruh migran.

KEMISKINAN

Kemiskinan merupakan masalah yang muncul ketika seseorang atau sekelompok orang tidak mencukupi tingkat kemakmuran ekonomi yang dianggap sebagai kebutuhan minimal dari standar hidup tertentu. Kemiskinan hampir melanda setiap desa yang ada di Lombok Timur baik yang di daerah subur yang kaya dengan potensi sumber daya alamnya maupun daerah yang kering dan tidak banyak potensi sumber daya alamnya. Demikian juga yang terjadi di daerah kaki Gunung Rinjani yakni Desa Tetebatu yang melimpah ruah akan potensi sumber daya alamnya. Akan tetapi cukup banyak waraganya yang juga memilih menjadi TKI ke luar negeri untuk menyambung hidup diri dan keluarganya. Untuk itu target program ini adalah mereka yang tergolong miskin dari keluarga TKI dengan berbagai indikator kemiskinan yang telah disepakati dalam lokakarya dan dihimpun dari diskusi komunitas I dan II yang diadakan oleh Konsorsium ADBMI & Friends.

Menurut versi masyarakat, dari hasil diskusi komunitas dan lokakarya desa, kemiskinan itu adalah sebagai berikut:

  • Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah dinding pakai bamboo/kayu
  • Tidak memiliki fasilitas tempat pembuangan air besar/WC
  • Luas lantai tempat tinggal 8 m2
  • Sumber penerangan tidak menggunakan listrik
  • Sumber mata air minum dari sumur/mata air tidak terlindungi/air terjun
  • Memasak menggunakan kayu arang/minyak tanah
  • Konsumsi daging/susu 1 x seminggu
  • Memiliki 1 stel pakain baru dalam setahun
  • Makan satu/dua kali sehari
  • Tidak sanggup berobat ke puskesmas/klinik
  • Sumber pengahsilannya dari bertani dengan luas lahan 0,5 Ha, buruh tani, buruh ternak, buruh bangunan, buruh perkebunan dan pengahasilannya di bawah Rp.600.000 perbulan
  • Pendidikan KK tidak tamat SD/tidak sekolah/hanya sampai SD
  • Tidak memilik tabungan/barang yang mudah dijual dengan nilai Rp.500.000 seperti sepeda motor, emas, ternak, dll.

 

Selengkapnya baca Analisis Sosial Desa Tetebatu (pdf).

Lewat ke baris perkakas