Sejarah Desa

Menurut beberapa tokoh masyarakat dan tokoh agama salah satunya adalah H. Abdul Malik Hamid, bahwa nama Perian berasal dari kata “Peririan” yang berarti memperbaiki. Ada pendapat yang mengatakan bahwa Perian berasal dari kata “Peri Kemanusiaan” yang mempunyai makna mencintai sesama manusia, bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa Perian diambil dari nama sebuah dusun yang ada di Kotaraja (Dusun Perian) karena lahirnya Desa Perian sangat erat kaitannya dengan Desa Kotaraja baik secara sosial maupun budaya. Selain keturunan Kotaraja, masayarakat Perian juga berketurunan Montong Betok dan Suradadi.

Perian sebelum menjadi desa definitif merupakan wilayah Desa Kilang selama 3 tahun antara kurun waktu tahun 1961-1963. Kemudian pada bulan Desember tahun 1963 setelah adanya  pemekeran Kecamatan Montong Betok, maka oleh Camat Montong Betok saat itu Abdul Hamid mengambil inisiatif memekarkan desa-desa wilayah Montong Betok salah satunya adalah desa Kilang dengan beberapa pertimbangan :

  1. Letak Desa Kilang yang terlalu jauh dengan wilayahnya di sebelah utara.
  2. Untuk mendekatkan masyarakat dengan Pemerintahan Desa
  3. Untuk melancarkan roda pemerintahan

Maka dengan dasar pertimbangan di atas, Desa Kilang dimekarkan menjadi 2 (dua) yaitu Desa Kilang dan Desa Perian.

Selama dalam proses menjadi desa persiapan, Desa Perian dipimpin oleh H. Muhsan Makbul Kepala Desa Kilang sebelumnya dan yang pernah menjabat Kepala Desa Kilang dari tahun 1961-1963.

Kondisi Geografis

Desa Perian merupakan salah satu dari 8 (delapan) desa yang berada di sebelah utara Kecamatan Montong Gading Kabupaten Lombok Timur dengan luas wilayah 9,75 km2. Desa ini merupakan salah satu desa dengan tingkat pengaruh terhadap wilayah sekitarnya relatif cukup besar, baik dari aspek fisik, sosial maupun ekonomi.  Kondisi ini disebabkan oleh faktor perkawinan.

Secara administratif  Desa Perian memiliki batas batas wilayah sebagai berikut :

  • Sebelah Selatan : Wilayah Desa Montong Betok dan Desa Lendang Belo
  • Sebelah Barat : Wilayah Desa Jenggik Utara
  • Sebelah Timur : Wilayah Desa Pesanggrahan
  • Sebelah Utara : Wilayah Kawasan Hutan TNGR

Dari aspek sosial, penduduk Desa Perian memiliki populasi penduduk yang tergolong cukup tinggi, karena Desa Perian tidak melakukan pemekaran seperti desa-desa lain di wilayah Kecamatan Montong Gading dengan jumlah Dusun sebanyak 10 dusun dan 46 RT.

Jarak Desa Perian dengan Ibu Kota Kecamatan sekitar 4 km, dapat ditempuh sekitar 30 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor, apabila ditempuh dengan jalan kaki sekitar 1 jam perjalanan. Sedangkan dari Ibukota Kabupaten desa ini berjarak sekitar 26 km dan sekitar 40 km dari Ibu Kota Provinsi. Untuk mencapai desa ini dapat menggunakan kendaraan bermotor maupun angkutan umum.

Demografi

Penduduk

Menurut Data Profil Desa Perian per Juni tahun 2016, jumlah penduduk di Desa Perian tercatat 8.109 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga 2.662 KK, yang terdiri atas laki-laki 4.010 jiwa dan perempuan 4.099 jiwa. Untuk lebih jelasnya, jumlah penduduk di Desa Perian dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3.1 Jumlah Penduduk Desa Perian

No Dusun L P L+P Jumlah KK
1 Perian Selatan 531 545 1076 324
2 Perian Utara 303 343 646 214
3 Gunung Paok 519 530 1049 360
4 Serijata 393 401 794 273
5 Taer-Aer 433 448 881 315
6 Gegek Tengak 376 366 742 237
7 Gegek Likoq 265 272 537 187
8 Pesisok 350 340 690 212
9 Selakerat 394 407 801 255
10 Keluncing 446 447 893 285
Jumlah 4010 4099 8109 2662

Sumber : Profil Desa Perian 2016

Adapun komposisi penduduk Desa Perian menurut umur lebih jelas dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 3.2 Komposisi Penduduk Menurut Umur Desa Perian

 Kelompok umur Laki-laki perempuan Jumlah
0-4 382 321 703
5-9 553 525 1078
10-14 290 336 626
  281 296 577
20-24 286 324 610
25-29 329 328 657
30-39 553 538 1091
40-49 530 650 1180
50-59 461 484 945
60 + 304 338 642
JUMLAH 3969 4140 8109

Sumber : Profil Desa Perian 2015

Berdasarkan data di atas jumlah penduduk usia produktif sebesar 4.115 jiwa (50,7%), terdiri dari 2.136 orang perempuan dan 1.979 orang laki-laki. Kelompok usia produktif tersebut saat ini 4.115  yang terdata sedang bekerja ke Luar Negeri sebagai BMI sebanyak 455 orang atau sebesar 10,8%  (425 laki-laki dan 30 orang perempuan). Selain itu diperkirakan 201 orang (186 orang laki-laki dan 15 orang perempuan) pernah menjadi BMI.

Pendidikan

Sedangkan komposisi penduduk desa menurut tingkat pendidikannya berdasarkan Data Profil Desa Perian dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 3.3 Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Desa Perian

TINGKATAN PENDIDIKAN Jumlah(orang)
Tidak tamat SD 805
Tamat SD-SLTP 946
Tamat SLTA 764
Tamat AK/PT 181
JUMLAH 2696

Sumber : Profil Desa Perian 2016

Tingkat pendidikan tersebut menunjukkan kualitas sumber daya manusia di Desa Perian. Artinya Jumlah penduduk yang telah mengenyam pendidikan sebesar 2.696  (33%) orang dari 8.109 penduduk Desa Perian. Rendahnya tingkat pendidikan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

  1. Terbatasnya lapangan kerja dan rendahnya upah di desa
  2. Makin menyempitnya lahan pertanian
  3. Rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan
  4. Anggapan masyarakat tentang pendidikan bahwa mengenyam pendidikan tinggi itu tidak menjamin masa depan karena walaupun sudah sarjana pun masih sulit mendapatkan kerja (menganggur).

Kesehatan

Dengan jumlah penduduk 8.109 jiwa hanya memiliki 1 fasilitas kesehatan berupa Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dengan satu tenaga kesehatan yaitu Bidan Desa menggambarkan betapa masih minimnya fasilitas kesehatan di Desa Perian. Hal ini sangat berdampak besar terhadap tingkat kesehatan msyarakat karena setiap masyarakat yang sakit harus berobat ke Puskesmas Kecamatan yang jaraknya cukup jauh. Padahal dengan kondisi wilayah yang luas (karena perian tidak melakukan pemekaran) sangat layak untuk pemerintah membangun fasilitas kesehatan berupa Puskesmas Pembantu (Pustu).

Agama, Etnis dan Kebangsaan

Desa Perian didiami oleh penduduk yang 100% beragama Islam, 100% berkewarganegaraan Indonesia dan 100% merupakan suku Sasak. Jadi melihat dari fakta tersebut bahwa jelas Desa Perian termasuk desa yang homogen.

Tabel 3.4  Agama

AGAMA LAKI-LAKI PEREMPUAN
Islam 100 % 100 %
Jumlah 100 % 100 %

 Tabel 3.6 Kewarganegaraan

KEWARGANEGARAAN LAKI-LAKI PEREMPUAN
Warga Negara Indonesia 100 % 100 %
Jumlah 100 % 100 %

 

Tabel 3.7 Etnis

ETNIS LAKI-LAKI PEREMPUAN
Sasak 100 % 100 %
Jumlah 100 % 100

Perekonomian

Mata Pencaharian/Lapangan Kerja

Masyarakat Perian sebagian besar bermata pencaharian sebagai buruh tani dan petani. Selain itu peternakan terutama peternakan Sapi merupakan pekerjaan yang banyak digeluti oleh sebagaian masyarakat Perian karena merupakan jenis pekerjaan yang punya prospek bagus untuk dikembangkan baik secara bisnis maupun peluang mengingat perian memiliki tanah yang subur dan dekat dengan kawasan TNGR sehingga msyarakat yang hidup berbatasan langsung dengan wilayah TNGR seperti kekadusan Taer-Aer, Gunung Paok dan Serijata memanfaatkan kawasan hutan untuk menananam dan mengambil rumput sebagai pakan ternaknya bahkan dari hasil pengamatan kami masyarakat Perian terutama yang berada di tiga wlayah kekadusan tersebut memiliki intensitas yang tinggi memasuki kawasan TNGR untuk mengambil Hasil Hutan bukan Kayu (HHBK) terutama Rumput. Di samping itu kotoran ternak bisa juga dimanfaatkan sebagai pupuk kompos atau organik untuk pupuk tanaman pertanian.

Pendapatan per keluarga dapat dikelompokkan menjadi empat kriteria atau tingkatan penghasilan warga di Desa Perian yaitu :

  1. Masyararakat yang berpenghasilan < Rp.300.000,- = 4 orang
  2. Masyararakat yang berpenghasilan Rp.300.000 – Rp 600.000 = 404 orang
  3. Masyararakat yang berpenghasilan Rp. 600.000 – Rp.900.000 = 169 orang
  4. Masyararakat yang berpenghasilan > Rp. 1.000.000,- = 15 orang

Jika dikaitkan dengan indikator kemiskinan yang dihasilkan dari dua kali Diskusi Komunitas bersama warga, sesuai dengan tabel di bawah ini :

Tabel 3.10  kriteria kemiskinan

No Kriteria Kemiskinan Indikator Kemiskinan
1 Miskin –       Rumah 4×6 m2 (semi permanen) dengan ciri pakai batu bata, atap asbes dan  lantai semen

–       Pendapatan rata-rata  < Rp. 700.000/bulan

–       Mampu membeli sepeda motor

–       Mampu membiayai pendidikan  anak sampai SMA dan sederajat

–       Mampu membeli pakian untuk keluarga

2 Sangat Miskin –       Rumah kumuh dengan ciri dinding rumah pagar/bedek/papan, atap asbes, lantai tanah/semen

–       Pendapatan rata-rata < Rp.200.000/bulan

–       Membeli pakian 1x setahun

–       Kurang pendidikan/putus sekolah (tamat SD)

–       Tidak mampu mendapatkan pelayanan kesehatan (atau dengan kata lebih banyak berobat ke dukun)

–       Sarana  MCK tidak permanen

–       Makan daging 1x setahun atau pada saat hari-hari tertentu.

Menurut data yang diperoleh di lapangan bahwa Dusun Pesisok adalah dusun yang paling banyak mengirimkan TKI. Sedangkan Dusun Gunung Paok, Serijata dan Taer-Aer adalah dusun yang berbatasan langsung dengan kawasan TNGR juga memiliki kontibusi pengiriman TKI yang tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan dusun lain yang tidak berbatasan langsung dengan kawasan. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat kesejahteraan warga di pinggir kawasan lebih baik dari yang lain karena warga juga memanfaatkan kawasan sebagai penopang ekonomi. Hal inilah yang harus bisa diarahkan dengan baik agar pengelolaannya tidak mengarah ke arah perusakan tetapi ikut menjaga kelestarian lingkungan dengan cara warga juga dapat mengambil manfaat dari kawasan TNGR.

Adapun beberapa faktor penyebab terjadinya migrasi antara lain :

  • Persoalan ekonomi, berangkat dari keinginan untuk merubah kondisi ekonomin seperti ingin punya rumah baru, sepeda motor, TV menjadi salah satu pemicu banyaknya masyarakat Perian bercita-cita dan memilih menjadi buruh migran.
  • Bahwa menjadi buruh migran adalah salah pilihan di kalangan masayarakat Perian sehingga dapat dengan segera memenuhi dan memiliki segala kebutuhan seperti sepeda motor, membangun rumah dan kebutuhan lain yang sifatnya konsumtif termasuk untuk menikah.
  • Minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan di desa
  • Rendahnya pendapatan keluarga

Industri Rumah Tangga

Di Perian bagian selatan terdapat usaha industri rumah tangga berupa pembuatan keripik pisang yang dilakukan secara kelompok dan perorangan. masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 orang. Ada sekitar 3-4 kelompok yang masih bertahan dalam usaha ini, selebihnya sudah tidak lagi aktif hal ini disebabkan oleh kekurangan modal dan kekurangan ketersediaan bahan baku pisang. Kelompok-kelompok yang masih bertahan ini merupakan kelompok binaan dari BUMDes Desa Perian melalui program Usaha Simpan Pinjam yang dilakukan oleh pengurus BUMDes dengan memprioritaskan pelaku-pelaku bisnis usaha mikro dan usaha yang lainnya seperti peternak Itik dan unggas lainnya dalam skala kecil dan menengah. Hal ini telah banyak membantu ekonomi masyarakat Perian terutama para ibu-ibu dari para buruh migran sebagai penambahan penghasilan selain dari remittance yang mereka dapatkan dari suami maupun keluarganya. Hal ini juga sangat berdampak secara signifikan dari berkurangnya angka buruh migran yang ada di Desa Perian.

Perdagangan

Selain buruh tani, petani, pekebun, dan beteranak, masyarakat Perian juga menggantungkan harapan hidupnya sebagai pedagang. Walaupun diprosentase/dibandingkan dengan jumlah penduduk yang memiliki usaha perdagangan sangat rendah.

Potensi Pertanian dan Perkebunan

Dengan luas persawahan 411.99 Ha dan luas perkebunan 311.28 Ha menggambarkan betapa masyarakat Perian adalah mayoritas menggantungkan sumber penghidupannya sebagai petani dan pekebun. Di sektor pertanian masyarakat perian mengandalkan hasil sawah seperti Padi dan Cabai, sedangkan untuk komoditas perkembunan adalah Tembakau.

Guna Lahan

Desa Perian merupakan daerah dataran tinggi dengan jenis tanah yang berpasir dan berwarna hitam keabu-abuan. Adapun pembagian wiayah menurut penggunaannya adalah sebagai berikut :

 Tabel 3.12  Luas wilayah menurut penggunaan

Luas Pemukiman 74.18 Ha
Luas Persawahan 411.99 Ha
Luas Perkebunan 311.28 Ha
Luas Perkuburan 3,8 Ha
Luas Pekarangan 166.61 Ha
Luas Perkantoran 0.04 Ha
Luas Prasarana Umum Lainya 7,1 Ha
Total Luas 975 Ha

Potensi Peternakan

Untuk potensi ternak di Desa Perian, sebagian besar keluarga beternak Sapi. Ternak Sapi ini dianggap sebagai investasi atau sejenis tabungan keluarga. Dengan sistem bagi hasil (mayoritas peternak bukan ternak sendiri) dengan pemilik Sapi membuat masyarakat Perian tidak bisa terlalu menggantungkan usaha peternakan sebagai usaha yang berorientasi bisnis karena proses produksi yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Ternak Sapi ini bisa dikembangkan secara maksimal oleh masyarakat karena dari sisi keamanan sangat memungkinkan dan ditambah dengan sistem kandang kolektif di satu sisi untuk ketersediaan pakan ternak sendiri sangat banyak dengan memanfaatkan hutan sebgai tempat menanam rumput/pakan. Pakan ternak dikembangkan jenis Rumput Gajah. Rumput Gajah ditanam dengan memanfaatkan lahan di sekitar pinggir sungai, pematang sawah, pinggir jalan dan kebun/hutan. Pemanfaatan kotoran Sapi dan kotoran ternak lainnya juga bisa juga dimanfaatkan oleh petani sebagai pupuk organik yang menurut ahli pertanian bahwa pupuk organik sangat baik untuk menambah produktifitas tanaman. Sedangkan untuk ternak kecil dikembangkan jenis Ayam Kampung dan Bebek. Adapun jenis populasi ternak di Desa Perian dapat dilihat seperti tabel di bawah ini :

Tabel 3.13  Jenis kepemilikan ternak

Jenis Ternak Jumlah Pemilik
Sapi 875 Orang
Ayam Kampung 2546 Orang
Bebek 243 Orang
Kambing 59  Orang
Angsa 25  Orang
Kucing 58  Orang

 Tabel 3.11 Sumber Air Bersih

Jenis Jumlah

(Unit )

Pemamfaat

(KK )

Kondisi (Baik.Rusak )
Mata Air 7 Unit    
Sumur Galian 31  Unit    
PDAM 32 unit    
Bak penampung air hujan 13 Unit    

Potensi Perikanan

Selain sektor pertanian, perikanan juga merupakan potensi nomer dua yang bisa dikembangkan sebagai pilihan usaha mengingat kondisi wilayah Desa Perian yang dekat dengan hutan dan memiliki banyak sumber air. Namun kendala terbesar yang dihadapi oleh masyarakat Perian dalam mengembangkan/menggeluti usaha perikanan ini adalah biaya yang besar dan kebanyakan usaha yang ada sekarang dimiliki oleh orang luar (bukan masyarakat Perian), artinya masyarakat Perian hanya menyewakan lahan dan tempat. Sarana produksi budidaya ikan air tawar.

Karamba 15 unit 1,5 ton/tahun
Kolam 9 ha/m2 59 ton/tahun
Danau – ha/m2 –    ton/tahun
Rawa -ha/m2 –    ton/tahun
Sungai -ha/m2 –    ton/tahun
Sawah 3 ha/m2 3    ton/tahun
Jala    
pancingan    

Kondisi Infrasutruktur

Adapun kondisi infrastruktur yang dimiliki oleh Desa Perian dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Prasarana dan sarana Pemerintah Desa/Kelurahan

Gedung Kantor Ada
Kondisi Baik
Jumlah Ruang Kerja 3 Ruang
Balai desa/lurah/sejenisnya Ada
Listrik Ada
Air Bersih Ada
Telepon Tidak ada
Rumah Dinas Kepala desa/Lurah Tidak ada
Rumah Dinas Perangkat Desa/Kelurahan Tidak ada
Inventaris dan alat tulis kantor  
Jumlah Mesin Tik 2 .buah
Jumlah Meja 10 .buah
Jumlah Kursi 45.buah
Jumlah almari arsip 5 .buah
Komputer 3.unit
Mesin Fax Tidak ada
Kendaraan Dinas 3 unit
Administrasi Pemerintah Desa/Kelurahan
Buku data Peraturan Desa Ada, Terisi
Buku Keputusan Kepala desa/Lurah Ada, Terisi
Buku administrasi kependudukan Ada, Terisi
Buku data inventaris Ada, Terisi
Buku data aparat Ada, Terisi
Buku data tanah milik desa/tanah kas desa/milik kelurahan Ada, Terisi
Buku administrasi pajak dan retribusi Ada, Terisi
Buku data tanah Ada, Terisi
Buku pengaduanmasyarakat Ada, Terisi
Buku agenda ekspedisi Ada, Terisi
Buku profil Desa/kelurahan Ada, Terisi
Buku data induk penduduk Ada, Terisi
Buku data mutasi penduduk Ada, Terisi
Buku rekapitulasi jumlah penduduk akhir bulan Ada, Terisi
Buku register pelayanan penduduk Ada, Terisi
Buku data penduduk sementara Ada, Terisi
Buku anggaran penerima Ada, Terisi
Buku anggaran pengeluaran pegawai dan pembangunan Ada, Terisi
Buku kas umum Ada, Terisi
Buku kas pembantu penerimaan Ada, Terisi
Buku kas pembantu pengeluaran rutin dan pembangunan Ada, Terisi
Buku data lembaga kemasrakatan Ada, Terisi

Pemerintahan Dan Kelembagaan Desa

Lembaga Pemerintah
Jumlah Aparat pemerintahan Desa/Kelurahan orang
Jumlah Perangkat Desa/kelurahan 14 .unit kerja
Kepala desa/Lurah Ada
Sekretaris Desa/Kelurahan Ada
Kepala Urusan Pemerintahan Ada
Kepala Urusan Pembangunan Ada
Kepala Urusan Pemberdayaan Masyarakat Ada
Kepala Urusan Kesejahtraan Rakyat Ada
Kepala Urusan Umum Ada
Kepala urusan Keuangan Ada
Kepala Urusan Tantib Ada
Jumlah Staf  
Jumlah dusun di Desa/Lingkungan dikelurahan atau sebutan lain 10 Dusun/lingkungan
Kepala Dusun/Lingkungan Aktif. Dusun Perian Selatan
Kepala Dusun/Lingkungan Aktif. Dusun Perian Utara
Kepala Dusun/Lingkungan Aktif. Dusun Gunung paok
Kepala Dusun/Lingkungan Aktif. Dusun Serijata
Kepala Dusun/Lingkungan Aktif. Dusun Taer-aer
Kepala Dusun/Lingkungan Aktif. Dusn Gegek tengak
Kepala Dusun/Lingkungan Aktif. Dusun Gegek likoq
Kepala Dusun/Lingkungan Aktif. Dusun Pesisok
Kepala Dusun/lingkungan Aktif Dusun Selakerat
Kepala Dusun/lingkungan Aktif Dusun Keluncing
Tingkat Pendidikan aparat Desa/Kelurahan SMP,SMA,Diploma,S1,
Kepala Desa/Kelurahan SAYUTI
Sekretaris Desa ARENA IRIANI
Kepala Urusan Pemerintahan HUMAIDI AL-‘AISRO,S.Pd
Kepala Urusan Pembangunan H.MUHAMMAD IHSAN,S.Pd
Kepala Urusan Trantib
Kepala Urusan Kesejahtraan Rakyat HULTIAWATI
Kepala Urusan Umum LL.MUSLIM
Kepala urusan Keuangan Pjs.HULTIAWATI
BADAN PERMUSYAWARAHAN DESA  
Keberadaan BPD Ada – Aktif
Jumlah anggota BPD 9 ORANG
Pendidikan anggota BPD  
Ketua S1
Wakil Ketua S1
Sekretaris S1
Anggota,Nama MUAMMAR SMA
Anggota,Nama:IHSANWADI,S.Pd S1
Anggota,Nama:SUPIADI SMA
Anggota,Nama:H.AGUS FITRIADI SMA
Anggota,Nama:…H.M.SAYUTI SMA
Anggota : LL.HABIB ATSNAN,S.Pd S1
Lembaga Kemasyarakatan
PKK  
Jumlah Pengurus 25 ( Dua Puluh Lima ) Orang
Rukun Tentangga  
Jumlah RT 25 ( Dua Puluh Lima ) Unit Organisasi
Lembaga Ekonomi

BUMDes “PERIAN” berdiri pada akhir tahun 2015 berdasarkan Surat Keputusan Kepala Desa. Dengan sumber pendapatan berasal dari bantuan Pemdes yang diambil dari Dana Desa dengan penyaluran dilakukan secara bertahap yaitu pada 20 Januari 2016 Pemerintah Desa Perian memberikan dana sebesar Rp.28.000.000,- (dua puluh delapan juta rupiah) dan pada tanggal 2 April 2016 sebesar Rp.5.530.000 (Lima Juta Lima Ratus Tiga Puluh Ribu Rupiah) dan tanggal 25 Mei 2016 sebesar Rp.92.000.000,- (Sembilan Puluh Dua Juta Rupiah).

BUMDes PERIAN memfokuskan pada kegiatan usaha simpan pinjam dengan sasaran masyarakat umum Perian yang memiliki usaha baik perorangan maupun kelompok. Jumlah pinjaman disesuaikan dengan jenis dan volume usaha, setiap kelompok minimal 4 anggota dengan masing-masing anggota mendapatkan dua juta rupiah dengan sistem angsuran per bulan dengan pengambilan jasa sebesar 0,15% per satu juta rupiah sesuai dengan amanat dari Peraturan Daerah di Lombok Timur yang menyinggung tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dihadirkan sebagai lembaga yang akan membantu meningkatkan kesejahteraan ekonomi rakyat. Kebaradaan BUMDes PERIAN sendiri sudah mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pada umum terutama masyarakat yang memiliki usaha kecil dan menengah karena disamping proses administrasi yang mudah juga prosentase jasa yang sedikit hanya 0,15% cukup membantu menghindari masyarakat Perian terjebak dari meminjam di rentenir. Para pengurus BUMDes PERIAN saat ini terus berusaha melakukan terobosan dan inovasi agar BUMDes bisa bertahan dan menjadi solusi yang tepat sebagai lembaga desa yang membantu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa salah satunya adalah siap bekerja sama dengan lembaga  yang bergerak di usaha simpan pinjam lainnya seperti UED (Usaha Ekonomi Desa) yang memang sudah ada sebelumnya agar terus bersinergi sehingga semua lembaga yang ada di desa benar-benar bisa menjadi solusi meningkatkan pendapatan terutama masyarakat yang memiliki usaha kecil dan menengah. Selain itu para pengurus BUMDes PERIAN juga selalu terbuka untuk melakukan kerasama dengan lembaga yang sudah ada lainnya seperti  Koperasi Serba Usaha (KSU) Bumi Raya agar setiap kegiatan yang usaha simpan pinjam dengan kelompok sasaran yang sama bisa lebih tepat sasaran.

  1. Pelaku Migrasi Generasi Pertama

Gelombang migrasi di Desa Perian pertama kali terjadi antara sekitar tahun 80-an, adalah Mahsun (65 Th) tahun berasal dari Taer-Aer adalah orang yang pertama kali menjadi buruh migran ke Negeri Ringgit, Malaysia (berangkat pada tahun 1983), berawal dari niat ingin memperbaiki ekonomi seperti ingin memiliki rumah yang lebih layak, Mahsun kemudian menggadaikan sawah satu-satunya yg didapatkan dari warisan sebesar 100 ribu rupiah kemudian enam puluh ribu rupiah disetorkan ke tekong (bernama Amaq Suhar dari Desa Bual Kabupaten Lombok Tengah).

Rute keberangkatan Mahsun dimulai dari rumah menuju Surabaya (menginap selama dua hari dua malam), lalu dari Surabaya diberangkatkan ke Bengkalis dengan jarak tempuh kurang lebih tujuh hari delapan malam di perbatasan ini, Mahsun ditampung selama hampir 20 hari sebelum diselundupkan ke Malaysia menggunakan perahu Pompong atau Tongkang menuju Malaysia Barat. Di Malaysia, Mahsun bekerja di sektor perkebunan kelapa sawit, selama kurang lebih dua tahun bekerja di Malaysia. Mahsun tidak lupa mengirimkan gaji yang diperolehnya ke keluarganya di tanah air untuk membayar hutang dan membiayai hidup keluarganya meskipun cita-cita utama untuk membangun rumah belum tercapai.

Pada tahun 1986 (setelah tiga tahun di Malaysia), Mahsun pun kembali ke Indonesia selama di kampung halaman, Mahsun hanya mengahabiskan uang untuk keperluan hidup sehari-hari hasil karena memang tidak memiliki pekerjaan tetap selama kepulangannya. Hasil sawah yang diharapkan sebagai pemenuhan kebutuhan hidup terasa tidak cukup bahkan tidak jarang Mahsun meminjam tetangga sebagai biaya penggarapan sawah sementara hasil sawah hanya cukup buat makan sehari-hari saja. Setelah 8 bulan sejak kepulangannya, Mahsun pun kembali masuk Malaysia dengan satu keinginan untuk memiliki rumah yang lebih layak dan perekonomian yang lebih baik.

Pada tahun 1987, Mahsun kembali mengadu peruntungan dengan menjadi TKI ke Negeri Ringgit, masih ke negeri yang sama yaitu Malaysia Barat dan di sektor perkebunan kelapa sawit. Masuk ke dua ini Mahsun rajin bekerja dan berhemat untuk bisa segera mengumpulkan uang yang banyak untuk bisa memayar hutang dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya dan yang terpenting agar cita-cita membangun rumah bisa segera terwujud.

Setelah kurang lebih dua tahun di Malaysia dan dengan hasil mampu membuat rumah, Mahsun pun kembali pulang yaitu tepatnya tahun 1989. Namun seperti kepulangan pertamanya Mahsun selama di kampung halamannya hanya makan minum dan sesekali keluar-masuk ke ladangnya untuk bercocok tanam dengan pendapatan yang tidak jelas sehingga keadaan ini membuat Mahsun tidak betah dan kembali memutuskan untuk masuk balik Malaysia. Begitu terus menerus sampai akhirnya Mahsun memutuskan pensiun menjadi buruh migran setelah berumur 45 tahun karena tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk mengangkat beratnya buah kelapa sawit.

Kini Mahsun pun menghabiskan sisa usianya dengan bertani dengan ditemani ke dua isterinya dan sembari berharap bantuan dari kiriman anak-anaknya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya selain dari hasil bertani.

 

  1. Pelaku Migrasi Generasi Kedua

Sumnawati umur 43 tahun adalah mantan buruh migran perempuan atau yang lebih dikenal dengan istilah TKW (Tenaga Kerja Wanita) pertama yang mewakili generasi kedua dari kaum perempuan yang berangkat pada tahun 1999. Tidak ingin mengalami nasib menjadi korban trafficking/perdagangan orang, dia pun memilih menjadi TKW melalui jalur resmi/legal lewat sebuah PT (nara sumber lupa nama dan alamat PT), tetapi setelah menunggu selama kurang lebih 9 bulan belum juga ada kejelasan soal kapan keberangkatan sementara Sumnawati sudah menanggung banyak hutang untuk biaya pengurusan paspor, medical check-up dan biaya transfortasi maka dia memutuskan untuk berangkat melalui jalur semi legal masuk dengan visa melancong. Setelah menyerahkan uang sebesar Rp.12.000.000,- (masing-masing Rp. 6.000.000,-) bersama suami ke tekong (lupa nama tekongnya) Sumnawati dan suami pun diberangkatkan dari rumah menuju terminal bus Bertais lalu dari menuju Surabaya kemudian dari Surabaya menuju tanjung pinang dengan menempuh perjalanan tiga hari empat malam selama di Tanjung Pinang mereka ditampung selama tiga hari lalu diberangkatan ke Malaysia Barat melalui jalur Setulang Laut menggunakan Fery dengan jarak temuh kurang lebih dua jam .

Di Malaysia, Sumnawati dan suami bekerja di sektor perkebunan kelapa sawit. Selama di Malaysia, Sumnawati kerap pindah kerja mulai dari sebagai pengutip biji kelapa sawit, penabur pupuk kelapa sawit dan terakhir sebagai pembantu rumah tangga bekerja. Murahnya gaji menjadi faktor di samping kurangnya ketersediaan lapangan kerja yang ada sehingga membuat penghasilan Sumnawati nyaris tidak ada karena Sumnawati hanya mampu mengirim uang ke keluarganya (orang tuanya) tiga atau empat bulan sekali itupun jumlahnya sangat jauh dari kata cukup untuk membiayai keluarganya di rumah.

Selama dua tahun di Malaysia, Sumnawati dan suami hanya mampu bayar hutang dan membiayai anak sekolah, cita–cita untuk membangun rumah harus ia lupakan karena Sumnawati dihinggapi rasa rindu kampung halaman. Sumnawati pun memutuskan pulang di pertengahan tahun 2002 melalui jalur gelap karena memang visa sosial yang dimiliki Sumnawati hanya berlaku satu bulan untuk biaya pulang Sumnawati memakai upah yang ia dapatkan selama satu bulan ditambah dengan uang hasil simpanan yang ia sisihkan karena untuk pulang sumnawti membutuhkan biaya sebesar RM 1.500,- atau sekitar 4,5 juta rupiah, belum termasuk biaya makan dan keperluan selama dalam perjalanan.

Setelah sampai di kampung halamannya Sumnawati tidak bekerja sehingga sisa ongkos dan tabungan yang sudah ada dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya anak sekolah sehigga praktis Sumnawati hanya megharapkan kiriman dari suami sebagai biaya kehidupan sehari-hari dan untuk keperluan anak-anaknya. Keadaan ini yang kemudian memaksa Sumnawati masuk ke Malayasia pada tahun 2014 masih dengan cara yang sama sebagai TKW mandiri/illegal memalui jalur Setulang dengan ongkos sekitar 4,5 juta rupiah.

Di negara tujuan ini, Sumnawati kembali bekerja menjadi pembantu rumah tangga dengan gaji RM 800 per bulannya dengan durasi kerja hampir 12 jam kerja mulai dari jam 5 pagi sampai jam 12 malam. Walau demikian, Sumnawati berusaha demi membantu suami dan anak-anaknya dan demi sebuah kehidupan yang lebih baik.

Akhir tahun 2015, Sumnawati pun memutuskan pulang mengingat kondisi Malaysia yang sudah tidak nyaman lagi bagi pendatang tanpa ijin sepertinya. Karena selama menjadi pendatang asing yang tidak memiliki ijin kerja yang sah sumnawati sering mengalami ketakutan dan kekhawatiran dari ditangkap oleh Polis Diraja Malaysia (PDRM). Untuk menghindari hal itu, atas saran suaminya, Sumnawati pun disuruh untuk pulang sebelum pihak Kepolisian Malaysia menangkap dan menjebloskannya ke dalam penjara.

Kini pasca kepulangannya, Sumnawati pun hidup sebagai buruh untuk memmenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya sambil mengharapkan uang kiriman dari sang suami.

Sejarah Migrasi

No Tahun Nama Tujuan Biaya Rute Hasil
1 1983 Mahsun Malaysia Barat Rp. 60.000 hasil menggadai sawah yang disetor ke tekong bernama Amak Suhar dari Bual, Loteng Rumah – Surabaya – Bengkalis – Johor Malaysia Barat (jalur gelap) Bayar hutang dan biaya kebutuhan sehari-hari
2 1988 Mahnan Malaysia Barat Rp. 100.000 disetor ke tekong bernama Udin dari Sikur Rumah – Sumbawa-Batam-Malaysia Barat (jalur gelap) Beli sapi 3 ekor, beli becak, dan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari
3 1991 M. Ali Malaysia Barat Rp. 250.000 disetor ke tekong bernama Sahban dari Rumbuk Rumah-Surabaya-Tanjung Samak-Johor-Malaysia Barat (jalur gelap) Buat rumah, biaya nikah dan kebutuhan hidup sehari-hari
4 1992 M. Husni Malaysia Barat Rp. 400.000 disetor ke tekong bernama Amaq Suhar  dari Bual, Loteng Rumah-Surabaya-Pekan Baru-Malaysia Barat (jalur gelap) Hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari
5 1998 Badaruddin Malaysia Barat Rp. 650.000 disetor ke tekong bernama H. Zohri dan H. Nasir dari Perian Rumah-Surabaya-Pasir Gudang-Malaysia Barat (jalur gelap) Bayar hutang, buat rumah, beli sapi
6 1999 M.Azman Saleh Malaysia Barat Rp.3.500.000 disetor ke tekong bernama H. Paweng dari Lombok Tengah Rumah-Lembar-Surabaya-Tanjung Priuk Tanjung Pinang-Johor (jalur gelap) Bayar hutang dan biaya hidup
1999 Sumnawati Malaysia Barat Rp. 6.000.000 disetor ke tekong (lupa nama tekongnya) Rumah-Bertais-Surabaya-Tanjung Pinang-Batam-Johor Bayar hutang dan biaya sekolah anak
7 2011 Munahir Malaysia Barat Rp. 4.700.000 disetor ke tekong bernama Jemar dari Gunung Paok Rumah-Jakarta-Johor Buat rumah, biaya nikah, dan biaya hidup
8 2013 Suriadi Malaysia Barat Rp. 4.000.000 disetor ke tekong bernama Tohri dari Pringgajurang Rumah-Surabaya-Batam-Johor (jalur gelap) Bayar hutang, buat rumah, biaya nikah
9 2014 Sahnum Malaysia Barat Rp. 4.000.000 disetor ke tekong bernama Amaq Suar dari Taer-Aer Rumah-Surabaya-Johor Hanya dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari

Timeline Migrasi

No Periode Tahun Migrasi Hasil Akses Keuangan Penggunaan Remittance
1 1980-1990 –    memenuhi kebutuhan sehari-hari –    titip dengan teman

 

–    Untuk bayar hutang

–    untuk membiayai kehidupan sehari-hari

2 1990-2000 –    Untuk biaya pendidikan anak

–    Mencukupi kebutuhan sehari-hari

–    Titip dengan teman

–    Rekening ojek

–    Pos(western Union)

–    ojek rekening

 

–    Memangun rumah

–    Membayar hutang

–    Membiayai pendidikan anak

3 2000-2010 –    Membeli binatang ternak

–    Membeli kendaraan/sepeda motor

–    Membeli/sewa  lahan(sawah)

–    Membuka usaha

–    Rekening ojek

–    Pos

–    Bank

–    ojek rekening

–    Biaya pendidikan Anak

–    Memenuhi kebutuhan hidup

–    Bayar hutang

–    Membuka usaha

4 2010-2016 –    Modal usaha

–    Di tabung

–    Biaya anak sekolah

–    Biaya kehidupan sehari-hari

–    Bank

–    Pos

–    Western Union

–    ojek rekening

 

–    Biaya pendidikan Anak

–    Memenuhi kebutuhan hidup

–    Bayar hutang

–    Membuka usaha

Sumber data : ADBMI 2016 (Diskusi Komunitas Perian kedua)

Keterangan tambahan :

Adanya ojek rekening yaitu sebuah jasa pengiriman uang kepada seseorang / keluarga yang dipercaya untuk menyimpan uang kiriman. Untuk Desa Perian ojek rekening ini mulai ada tahun 1999 dan di antara sekian banyak ojek rekening yang ada, ada dua orang yang kami nilai berhasil dan masih ada saat ini, yaitu H. Abdul Muhit dari Dusun Taer-Aer dan M. Junaidi dari Dusun Serijata.

Dalam wawancara dengan mereka ada berapa hal yang menjadi faktor pendorong mereka menjadi ojek rekening antara lain :

  • Masih minimnya masyarakat memiliki rekening
  • Belum tahu cara pengambilan uang
  • Fasilitas bank yang jauh hanya ada di wilayah Kopang – Kab. Loteng
  • Jarang ada yang memiliki kendaraan/sepeda motor
  • Minimnya pengetahuan tentang perbankkan
  • Tidak ingin hasilnya diketahui oleh teman
  • Orang yang mendapat kepercayaan masyarakat
  • Tingakat kepercayaan kepada keluarga rendah
  • Ojek rekening merealisasikan keinginan TKI

Selama menjadi ojek rekening yaitu terhitung antara tahun 2002 – 2016 uang kiriman luar negeri/remittance yang sudah masuk ke rekening mereka cukup besar, misalnya saja untuk H. Abdul Muhit selama menjadi ojek rekening 1999-2016 tercatat di buku rekeningnya uang remittance yang masuk  kurang lebih 10 milyar rupiah dan upah yang sudah ia terima selama menjadi ojek rekening sekitar dua milyar lebih. Selain jadi ojek rekening, beliau juga tercatat sebagai ojek telfon yang bisa dapatkan upah 200 ribu pe hari dan ini hanya berlangsung sampai tahun 2006 karena setelah tahun 2007 masyarakat terutama para TKI dan keluarganya sudah mulai mampu membeli alat komunikasi seperti telfon seluler terkadang menggunakan jasa telfon milik keluarga terdekat sehingga sejak saat itu beliau tidak lagi dapat orderan sebanyak tahun-tahun sebelumnya sehingga sejak saat itu (tahun 2007 sampai sekarang) beliau tidak lagi menjadi ojek telfon.

Sementara untuk M. Junaidi selama menjadi ojek rekening tercatat di rekening uang remittance yang masuk kurang lebih sekitar 3 milyar dan mendapat upah sekitar 60 juta selama menjadi ojek rekening. hasil menjadi ojek rekening mereka  mampu membuat rumah, sepeda motor, naik haji dan bahkan bisa membantu tetangga dengan memberikan pinjaman.

Namun harus diakui oleh mereka bahwa mulai tahun 2006 ke atas, jumlah uang kiriman yang masuk kerekening tidak sebanyak di tahun 1999-2006 hal ini disebabkan pada saat itu masyarakat sudah mulai bisa membuat rekening sendiri karena akses perbankan yang sudah mulai dekat dengan pemukiman. Selain itu kemampuan para TKI dan buruh migran dalam membeli kendaraan juga jadi penyebab karena mereka sudah bisa pergi sendiri ke bank untuk mengurus dan mengambil uang kiriman.

Melihat dari data empirik yang diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan penggalian data melalui Diskusi Komunitas dan Lokakarya Desa bahwa penggunaan hasil remitansi lebih besar atau lebih banyak dipergunakan untuk hal hal yang bersifat konsumtif seperti membangun rumah, membeli kendaraan dan pemenuhan kebutuhan hidup sehari hari. Hal ini juga merupakan standar atau ukuran TKI dikatakan sukses. Selain itu juga jiwa enterpreneurship tidak tertanam pada keluarga BMI dan keluarganya.

Gender dan Migrasi

Aktivitas Harian Masyarakat Perian

No waktu Kegiatan
Bapak Ibu anak
1 05.00-07.00 Shalat,menyiapkan aktifitas yg akan dikerjakan Shalat,menyaipakan sarapan untuk keluarga dan menyiapkan anak sekolah Shalat,sekolah
2 07.00-12.00 Beraktifitas mencari nafkah Memasak dan bekerja Sekolah
3 12.00-12.30 Istirahat Istirahat Istirahat
4 12.30-15.00 Bekerja Bekerja Bermain
5 15.00-19.00 Ibadah Ibadah Ibadah
6 19.00-20.30 Ibadah Membimbing anak belajar Belajar
7 20.30-22.00 Kumpul bersama keluarga Kumpul bersama keluarga Belajar
8 22.00-05.00 Istiahat Istirahat Istirahat

Catatan:

  1. peran ayah dianggap sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada keluarga sehingga tugas untuk mencari nafkah adalah suami dan kegiatannya dianggap sebagai kegiatan produktif yang menghasilakan uang.
  2. Ibu selain melakukan kegiatan produktif sebagai buruh harian juga melakukan kerja-kerja domestik (peran ganda) yang tidak dihargai dengan jam kerja yang jauh lebih banyak daripada peran suami
  3. Anak masih melakukan kegiatan sekolah dan membantu orang tua.

Melihat dari fakta di atas jelas terlihat pembagian peran yang sangat tidak seimbang dalam keluarga. Selain itu peran perempuan dalam urusan pengambilan keputusan juga masih terbatas karena masih didominasi oleh laki-laki.

Keseimbangan gender yang dimaksudkan adalah

  1. Deskripsi tradisi patriarchal yang menyebabkan bias gender di lingkungan masyarakat
  2. Pembagian peran dalam keluarga
  3. Maksimalisasi keberadaaan perempuan di desa dalam pengelolaan sektor ekonomi.
  4. Pemahaman dan peran fungsi perempuan dalam rumah tangga
  5. Kehadiran perempuan dan keaktifannya dalam setiap forum
  6. Formasi pertemuan melihat sisi proporsionalitas kehadiran laki dan perempuan
  7. Pembagian jam kerja.

Inilah salah satu penyebab kenapa TKI lebih banyak dari pada TKW di Desa Perian. Hal ini juga diperkuat dengan anggapan dari perempuan sendiri bahwa memang perempuan hanya berperan mengurus urusan domestik semata. Selain itu pengaruh budaya dan sosial lingkungan sangat berpengaruh besar terhadap kondisi sosial yang terbentuk. Budaya patriarki ini masih sangat kuat pengaruhnya di Desa Perian, di mana perempuan merupakan masyarakat kelas dua.

Migrasi, Potensi dan Bagan Kecenderungan

Potensi SDA

No Sumber Daya Alam Komoditi Pendistribusian
1. Pertanian (Lahan Sawah) Padi, Jagung, Palawija, Cabai, Tomat, Kacang, Sayur –       Langsung Pembeli/Masyarakat

–       Pengepul

2 Hutan Kayu, Rumput, Pakis, Nangka, Kopi, Pisang, Durian –       Masyarakat/Langsung ke Pembeli
3 Peternakan Sapi,Ayam,Itik –       Masyarakat

–       Tempat Pemotongan Hewan

4 Perikanan Ikan (Mujair, Lele, Karper, Emas, dll) –       Masyarakat

–       Rumah Makan

5 Perkebunan A. Umbi-Umbian Singkong, Talas, Kayu, Lengkuas, Kunyit

B. Buah-Buahan

Durian, Rambutan, Salak, Alpukat, Mangga dll.

–       Masyarakat/Pembeli Langsung

–       Konsumsi Sendiri

Berdasarkan data di atas bahwa komoditi yang ada hanya dipanen kemudian dijual ke pengepul. Tidak ada upaya untuk mengolah terlebih dahulu sehingga dapat memberikan nilai lebih dari sisi ekonomi. Masyarakat juga lebih banyak bersikap praktis yang penting cepat mendapatkan hasil.

Dari hasil diskusi dan wawancara bersama para pihak di tingkat desa dapatlah diambil satu kesimpulan bahwa hasil sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan secara lebih optimal ke depan adalah Pengolahan Pisang dan Ubi menjadi Kripik atau Sale. Karena komodoti ini adalah komoditi yang selalu ada di setiap musim sehingga menjamin ketersediaan bahan baku.

Kecenderungan Perubahan

Perubahan 1980 1990 2000 2010 2016
Hutan ֍֍֍֍֍ ֍֍֍֍ ֍֍֍֍ ֍֍֍ ֍֍֍
Lahan ֍֍ ֍֍ ֍֍֍ ֍֍֍ ֍֍֍
Air ֍֍֍֍֍ ֍֍֍֍ ֍֍֍ ֍֍ ֍֍
Suhu ֍֍֍֍֍ ֍֍֍֍ ֍֍֍ ֍֍֍ ֍֍
Cuaca ֍֍֍֍֍ ֍֍֍֍֍ ֍֍֍֍ ֍֍֍ ֍֍֍
Penduduk ֍ ֍֍ ֍֍֍ ֍֍֍֍ ֍֍֍֍֍
Pendidikan ֍ ֍ ֍֍ ֍֍֍ ֍֍֍
Migrasi ֍ ֍֍ ֍֍ ֍֍֍ ֍֍֍֍

Catatan:

  1. Kondisi hutan dari tahun 1980 masih sangat lebat.sejak tahun 2000 sudah mulai ada perambahan sehingga mempengaruhi kualitas hutan Desa Perian
  2. Kondisi lahan juga dari tahun 1980 sampai saat ini semakin sempit karena pertambahan penduduk dan penggunaan lahan untuk pemukiman dan fasilitas umum lainnya seperti masjid, sekolah dan perkantoran.
  3. Kondisi air secara kualitas dan kuantitas mengalami penurunan dari masa ke masa, ini ditandai dengan debit air semakin berkurang. Penggunaan air ini juga selain sebagai air bersih juga sebagai irigasi. Debit air sangat kurang terutama pada musim kemarau sangat terasa bahkan air bersih hanya cukup untuk keperluan minum dan mandi saja. Ini bisa menjadi ancaman di Desa Perian.
  4. Suhu dari tahun ke tahun semakin panas, kalau dulu tahun 1980-an sangat sejuk tapi sekarang sudah panas sekali. Ini ditandai dengan adanya nyamuk.
  5. Cuaca juga sekarang menjadi tidak menentu, antara musim hujan dan musim kemarau sehingga mempengaruhi musim tanam petani
  6. Pemukiman penduduk semakin banyak menyebabkan lahan semakin sempit.
  7. Penduduk juga semakin banyak dari tahun ke tahun
  8. Migrasi terjadi sejak tahun 1980-an dan sampai saat ini, semakin tinggi angka warga desa menjadi buruh migran karena buruh migran dijadikan salah satu pilihan untuk mengatasi persoalan ekonomi keluarga dan menjadi andalan ketika warga ingin membangun rumah layak dan ingin memiliki kendaraan bermotor karena di desa dianggap tidak ada pekerjaan yang menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan sekunder seperti rumah dan kepemilikan sepeda motor. Hal ini juga didorong oleh banyaknya hutang sehingga luar negeri menjadi solusi yang dapat memecahkan masalah.
Lewat ke baris perkakas