Praktik migrasi yang tidak aman seringkali terjadi, penempatan pekerja migran telah menjadi bidang pelanggaran hak asasi manusia, banyak perempuan dan anak-anak menjadi korban perdagangan manusia dengan modus pemalsuan dokumen. Setelah gempa mematikan mengejutkan Pulau Lombok pada tahun 2018 lalu, kondisi ekonomi & kemiskinan memburuk. Kondisi ini menempatkan perempuan dan anak-anak dalam kondisi yang semakin rentan.

Saat ini ADBMI Foundation bekerjasama dengan Pemerintah New Zealand menginisiasi program “Migrasi Aman & Anti Perdagangan Manusia Masuk ke Sekolah Sebagai Bagian dari Proses Pemulihan Gempa Bumi di Kabupaten Lombok Timur”. Program ini dijalankan di 3 Desa di Kecamatan Sambelia (Desa Senanggalih, Desa Belanting, dan Desa Madayin) sebagai Pilot Project.

Program akan berkontribusi pada proses pemulihan pasca gempa di Kabupaten Lombok Timur, melalui peningkatan keamanan dalam migrasi untuk mencegah perempuan dan anak-anak korban gempa bumi dieksploitasi sebagai pekerja migran secara ilegal & terlibat perdagangan manusia. Komunitas pekerja migran akan dipersiapkan dengan baik dengan informasi yang bebas dan mudah diakses. Persiapan ini dianggap penting karena sebagian besar pelanggaran hak-hak pekerja migran dipicu oleh minimnya informasi.

Dengan melibatkan Organisasi Siswa Sekolah (OSIS) di 3 sekolah program di Kecamatan Sambelia bisa memberikan peningkatan kapasitas siswa sebagai agen perubahan dalam upaya perlindungan komunitas PMI dari tindakan perdagangan manusia. Tujuan dari program tersebut tidak lain adalah untuk memberikan layanan keadilan kepada para korban tindakan perdagangan manusia, korban gempa bisa berigrasi dengan aman, dan tidak ada korban gempa terutama perempuan dan anak-anak dieksploitasi sebagai korban pekerja migran secara ilegal dan perdagangan manusia.

Lewat ke baris perkakas